MARANATHAMARANATHA

Journal of Medicine and HealthJournal of Medicine and Health

Kebocoran cairan otak merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada operasi Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF). Sejak tahun 2001, dilaporkan satu kasus kebocoran cairan otak akibat komplikasi operasi BSEF di Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha-RS Immanuel Bandung. Laporan kasus ini bertujuan untuk menampilkan gambaran klinik yang terjadi serta penatalaksanaan pasien dengan kebocoran cairan otak akibat komplikasi operasi BSEF. Laki-laki, 45 tahun datang dengan keluhan utama nyeri kepala setelah lima hari sebelumnya menjalani operasi BSEF. Terdapat lubang hidung sebelah kanan. Pada pemeriksaan cairan bening yang menetes dari nasoendoskopi didapatkan defek di lamina kribrosa. Hasil computed tomography scanning sinus paranasalis menunjukkan adanya defek ke sistem ventrikel berupa kolom udara. Dilakukan reparasi defek lamina kribrosa per-endoskopi trans-nasal dengan menggunakan surgicel, tulang rawan, dan jaringan lemak. Simpulan adalah telah dilaporkan satu kasus kebocoran cairan otak akibat komplikasi operasi BSEF dan telah dilakukan reparasi defek dengan hasil baik.

Kasus ini menunjukkan bahwa kebocoran cairan otak dapat terjadi setelah Bedah Sinus Endoskopi Fungsional dan dapat diatasi dengan reparasi endonasial transnasal menggunakan bahan graft seperti surgicel, kartilago, dan jaringan lemak.Teknik reparasi yang tepat serta penatalaksanaan pasca‑operasi yang adekuat, termasuk penempatan selang lumbal dan manajemen tekanan intrakranial, berkontribusi pada hasil klinis yang baik.Pengetahuan anatomi sinus yang mendetail dan penggunaan citra pra‑operatif yang akurat sangat penting untuk mencegah komplikasi serupa di masa mendatang.

Penelitian selanjutnya dapat membandingkan efektivitas berbagai bahan graft (misalnya surgicel, kartilago, fascia lata, atau jaringan otot) dalam menutup defek lamina kribrosa pada kebocoran cairan otak pasca‑FESS untuk menentukan material yang memberikan tingkat keberhasilan tertinggi dan komplikasi terendah. Selain itu, studi prospektif multicenter mengenai faktor risiko individu (seperti variasi anatomi sinus, riwayat sinusitis kronis, atau teknik operasi) dapat membantu mengidentifikasi pasien dengan probabilitas kebocoran cairan otak yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan penerapan protokol pencegahan yang lebih tepat sebelum operasi. Selanjutnya, uji klinis acak yang mengevaluasi protokol manajemen pasca‑operasi—misalnya durasi dan tekanan drainase lumbal, posisi tidur, serta penggunaan manitol—dapat menilai pengaruhnya terhadap pemulihan neurologis, laju penyembuhan, dan pencegahan rekurrensi kebocoran, sehingga mengoptimalkan standar perawatan pasca‑FESS.

  1. #hasil klinis#hasil klinis
  2. #ambang nyeri tekan#ambang nyeri tekan
Read online
File size404.88 KB
Pages8
Short Linkhttps://juris.id/p-13t
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test