UIRUIR

Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu PengetahuanAl-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan

Pada era dinamis dan digital ini, generasi milenial kerapkali dihadapkan pada tantangan psikologis yang menantang, khususnya Quarter-Life Crisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi religiusitas dan kematangan dalam membantu menghadapi Quarter-Life Crisis pada generasi milenial. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi litertur. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, kemudian analisis data menggunakan metode analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas dan kematangan beragama dapat membantu generasi milenial dalam menghadapi Quarter-Life Crisis. Bentuk kontribusinya adalah dalam bentuk memberikan landasan moral, kekuatan batin, ketenangan jiwa, sikap positif dan penerimaan diri, serta peningkatan kesejahteraan psikologis. Individu dengan tingkat religiusitas dan kematangan beragama yang tinggi cenderung lebih mampu mengatasi Quarter-Life Crisis, karena memiliki kemampuan yang lebih dalam mengendalikan emosinya. Temuan ini memberikan wawasan tentang potensi peran nilai-nilai agama dalam memberikan ketahanan mental bagi generasi milenial dalam menghadapi tantangan transisi kehidupan dewasa awal. Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup perlunya pengembangan program pembinaan yang mengintegrasikan aspek-aspek keagamaan untuk membantu individu mengelola perjalanan mereka menuju kedewasaan.

Quarter-Life Crisis adalah fenomena psikologis yang umum dialami generasi milenial usia 20-30an, dipicu oleh ketidakpastian, tekanan sosial, dan perbandingan di media sosial.Religiusitas dan kematangan beragama berperan penting sebagai mekanisme efektif untuk membantu mengatasi krisis ini, dengan memberikan landasan moral, kekuatan batin, ketenangan jiwa, sikap positif, penerimaan diri, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis.Individu dengan tingkat religiusitas dan kematangan beragama yang tinggi akan lebih mampu mengendalikan emosi, memiliki ketahanan mental, kepuasan hidup, serta keterampilan mengelola stres, sehingga dapat menerima aspek positif dan negatif dalam dirinya untuk menghadapi Quarter-Life Crisis.

Penelitian ini, yang berfokus pada studi literatur, telah menunjukkan peran penting religiusitas dan kematangan beragama dalam membantu generasi milenial menghadapi Quarter-Life Crisis. Untuk memperkaya pemahaman ini, beberapa arah penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, mengingat temuan ini adalah sintesis literatur, perlu dilakukan studi empiris yang konkret untuk menguji keefektifan program intervensi berbasis keagamaan. Misalnya, bagaimana merancang dan mengimplementasikan program pembinaan atau pendampingan yang secara spesifik mengintegrasikan nilai-nilai religiusitas dan kematangan beragama, lalu mengukur dampaknya terhadap penurunan tingkat Quarter-Life Crisis serta peningkatan kesejahteraan psikologis pada kelompok milenial di berbagai komunitas. Ini akan memberikan bukti nyata tentang strategi praktis yang dapat diterapkan. Kedua, dengan semakin dominannya media sosial sebagai pemicu Quarter-Life Crisis, studi mendatang dapat menyelidiki lebih dalam bagaimana intensitas penggunaan media sosial memoderasi atau memediasi hubungan antara religiusitas dan kematangan beragama dengan tingkat keparahan krisis. Pertanyaan penelitian bisa mencakup: apakah milenial dengan religiusitas tinggi yang sangat aktif di media sosial memiliki cara penanganan QLC yang berbeda dibandingkan mereka yang kurang aktif? Terakhir, penelitian kualitatif lebih lanjut, seperti studi kasus atau etnografi mendalam, akan sangat berharga untuk mengeksplorasi nuansa Quarter-Life Crisis dalam konteks sosial dan budaya yang beragam di Indonesia. Ini bisa mencakup perbandingan antara milenial dari perkotaan dan pedesaan, atau kelompok dengan latar belakang agama yang berbeda, untuk mengungkap bagaimana faktor-faktor kontekstual memengaruhi pengalaman krisis dan bagaimana nilai-nilai religius diinterpretasikan dan diaplikasikan sebagai mekanisme penanganan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

  1. KONTRIBUSI RELIGIUSITAS TERHADAP QUARTER LIFE CRISIS MAHASISWA FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH ANGKATAN... doi.org/10.31332/jmrc.v2i1.4511KONTRIBUSI RELIGIUSITAS TERHADAP QUARTER LIFE CRISIS MAHASISWA FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH ANGKATAN doi 10 31332 jmrc v2i1 4511
  2. The Reality of Tarbiyah, Ta’lim, and Ta’dib in Islamic Education | Susanti | SUHUF. reality... doi.org/10.23917/suhuf.v35i2.22964The Reality of Tarbiyah TaAolim and TaAodib in Islamic Education Susanti SUHUF reality doi 10 23917 suhuf v35i2 22964
  3. Community Social Education in the Perspective of the Hadith of the Prophet Muhammad SAW | Murjazin |... doi.org/10.31764/ijeca.v6i2.16418Community Social Education in the Perspective of the Hadith of the Prophet Muhammad SAW Murjazin doi 10 31764 ijeca v6i2 16418
Read online
File size463.32 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test