IAIN MADURAIAIN MADURA

AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata SosialAL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi integrasi antara Islam tradisional dan modern dalam tradisi Nganggung masyarakat Bangka. Nganggung adalah praktik adat membawa makanan dengan prosedur dan atribut khusus untuk memperingati hari raya Islam yang penting. Tradisi ini telah ada selama bertahun-tahun di Bangka, dilakukan oleh para tradisionalis. Baru-baru ini, para modernis juga ikut serta dalam acara ini, menjadikan Nganggung sebagai tempat peleburan yang menggabungkan tradisionalis dan modernis. Meskipun terkait dengan Islam tradisional, praktik ini juga melibatkan praktik modern. Penelitian dilakukan di desa Kemuja dan Kenanga di Pulau Bangka, menggunakan wawancara, observasi partisipatif, dan tinjauan literatur. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan kunci: Bagaimana kebijaksanaan lokal dalam tradisi Nganggung diekspresikan dalam masyarakat Bangka kontemporer? Bagaimana kebijaksanaan lokal ini dapat memperkuat ikatan antara Islam tradisional dan modern? Apa peran Maqasid Asy-Syarah dalam mempertahankan kebijaksanaan lokal ini untuk menciptakan harmoni yang berkelanjutan? Temuan menunjukkan bahwa partisipasi modernis muncul dari rasa hormat terhadap Islam tradisional. Meskipun Nganggung telah beradaptasi untuk mencakup semua kelompok, perubahan tetap minor. Ia terus menyatukan masyarakat, didukung oleh nilai-nilai Islam dan Maqasid Asy-Syarah.

Tradisi Nganggung berfungsi sebagai cerminan kebijaksanaan lokal, memfasilitasi integrasi antara Islam tradisional dan modern di Bangka.Studi ini mengungkapkan bahwa integrasi ini bukan hanya kompromi dari pihak modernis, tetapi juga hasil dari interaksi kompleks antara kedua kelompok.Integrasi dalam Nganggung dapat dipandang sebagai bentuk kompromi oleh modernis, yang mungkin menyesuaikan praktik dan kepercayaan untuk mengakomodasi tradisi.Kompromi ini dipengaruhi oleh komposisi demografis masyarakat, di mana dinamika mayoritas-minoritas atau status quo memainkan peran.Di sisi lain, kompromi dan penerimaan menciptakan potensi tidak hanya untuk mempertahankan harmoni di antara umat Islam, tetapi juga untuk memperkuat kekuatan Islam dan peradaban.Potensi ini dapat diperkuat melalui Maqasid Asy-Syarah (tujuan hukum Islam), yang berfungsi sebagai kerangka penyatuan bersama dengan kebijaksanaan lokal yang tertanam dalam ekspresi simbolis, sehingga menjadi prinsip panduan untuk membentuk masa depan yang lebih cerah.Tradisi Nganggung, yang telah menjadi bagian integral dari identitas komunitas Muslim Melayu di Bangka, menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi sambil mempertahankan koneksi dengan akar leluhur.Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi ini telah mencapai tahap lanjutan, di mana kesadaran adaptasi dan penyelarasan tujuan telah muncul.Modernis mengakui kebutuhan untuk mempertahankan harmoni dan kedalaman filosofis Nganggung.Sementara itu, Islam tradisional, sebagai kekuatan mayoritas, sangat terbuka terhadap keterlibatan semua segmen masyarakat.Meskipun beberapa aspek Nganggung telah berubah, perubahan-perubahan ini tidak menyentuh elemen inti tradisi.Sebagai wadah untuk harmoni Islam (ukhuwwah islāmiyah), Nganggung harus terus dipromosikan sehingga pelestariannya melampaui permukaan, mendorong pemahaman yang lebih dalam berdasarkan kombinasi kuat antara Maqasid Asy-Syarah dan kebijaksanaan lokal yang melekat.

Saran penelitian lanjutan yang diusulkan berdasarkan studi ini adalah: (1) Menganalisis lebih lanjut peran Maqasid Asy-Syarah dalam mempertahankan kebijaksanaan lokal dan harmoni berkelanjutan dalam tradisi Nganggung. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana Maqasid Asy-Syarah berfungsi sebagai kerangka penyatuan dan bagaimana hal itu dapat diterapkan dalam konteks Nganggung untuk memperkuat identitas dan peradaban Islam. (2) Meneliti lebih lanjut dinamika interaksi antara Islam tradisional dan modern dalam konteks Nganggung. Studi ini dapat menyelidiki bagaimana kedua kelompok ini saling berinteraksi, beradaptasi, dan mempertahankan tradisi Nganggung, serta bagaimana perbedaan pandangan mereka dapat diselaraskan untuk menciptakan harmoni yang berkelanjutan. (3) Mempertimbangkan pengaruh digitalisasi dan dinamika sosial yang berkembang terhadap tradisi Nganggung dan hubungan antara Islam tradisional dan modern. Penelitian ini dapat menyelidiki tantangan-tantangan baru yang muncul dalam era digital, seperti individualisme dan intensifikasi politik identitas, dan bagaimana hal-hal ini dapat mempengaruhi praktik dan makna Nganggung.

  1. MAQĀṢID AL-SHARĪʽAH | Al-Shajarah Journal of the International Institute of Islamic Thought and... journals.iium.edu.my/shajarah/index.php/shaj/article/view/1141MAQAID AL SHARAH Al Shajarah Journal of the International Institute of Islamic Thought and journals iium edu my shajarah index php shaj article view 1141
  2. Struggling for Islamic Caliphate in a Changing Malay Society | Ulumuna. struggling islamic caliphate... doi.org/10.20414/ujis.v28i1.794Struggling for Islamic Caliphate in a Changing Malay Society Ulumuna struggling islamic caliphate doi 10 20414 ujis v28i1 794
  3. The situated listener as problem: ‘Modern’ and ‘traditional’ subjects in Muslim... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1367877912474536The situated listener as problem AoModernAo and AotraditionalAo subjects in Muslim journals sagepub doi 10 1177 1367877912474536
Read online
File size2.84 MB
Pages28
DMCAReport

Related /

ads-block-test