UIGMUIGM

Global Expert: Jurnal Bahasa dan SastraGlobal Expert: Jurnal Bahasa dan Sastra

Penelitian ini menyelidiki pelanggaran terhadap maksim percakapan dalam film Joker (2019) menggunakan Prinsip Kerja Sama Grice. Pragmatik menekankan bahwa pembicara tidak selalu berkomunikasi secara langsung, dan pelanggaran maksim menjadi strategi untuk mengekspresikan niat tersembunyi, kondisi emosional, atau kritik sosial. Meskipun beberapa studi telah mengeksplorasi pelanggaran maksim dalam berbagai film, penelitian terbatas berfokus pada bagaimana pelanggaran linguistik dalam Joker mencerminkan ketidakstabilan psikologis dan konflik sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif campuran dengan menganalisis ungkapan terpilih dari transkrip Joker yang menunjukkan pelanggaran sadar terhadap Maksim Kuantitas, Kualitas, Hubungan, dan Cara. Setiap ungkapan diperiksa berdasarkan konteks dan jenis maksim yang dilanggar untuk mengungkapkan implikasinya secara pragmatis. Temuan menunjukkan bahwa Maksim Hubungan adalah yang paling sering dilanggar (43,5%), diikuti Kuantitas (22,6%), Kualitas (19,4%), dan Cara (14,5%). Pola ini menunjukkan bahwa karakter seringkali merespons tidak relevan atau bergeser topik, yang menyiratkan penghindaran, jarak emosional, atau upaya untuk menantang norma sosial. Pelanggaran maksim mencerminkan ketegangan psikologis Arthur, mengekspresikan sarkasme atau pesan tersembunyi, menonjolkan hubungan kekuasaan antara karakter, dan memperkuat kritik sosial dalam film. Dengan melanggar norma percakapan yang diharapkan, Arthur dan karakter lainnya berkomunikasi dengan makna yang tidak dapat diungkapkan secara langsung, seperti frustrasi, perlawanan, atau rasa sakit emosional. Kesimpulannya, pelanggaran maksim dalam Joker berfungsi sebagai perangkat naratif yang menyampaikan perkembangan karakter dan kedalaman tematik. Penelitian ini berkontribusi pada penelitian pragmatis dengan menunjukkan bagaimana strategi linguistik dalam dialog film mengungkapkan dimensi psikologis dan sosial yang kompleks.

Studi ini menyimpulkan bahwa pelanggaran maksim percakapan dalam Joker (2019) memainkan peran penting dalam mengungkapkan ketegangan psikologis dan ketidakhubungan sosial yang dialami oleh karakter, terutama Arthur.Pelanggaran Maksim Hubungan yang sering terjadi menunjukkan bagaimana Arthur sering menghindari jawaban langsung atau bergeser topik dengan cara yang memaksa pendengar untuk menginferi makna tersirat.Pola ini sejalan dengan penjelasan Grice bahwa pelanggaran relevansi mendorong pendengar untuk mencari implikatur yang lebih dalam di luar ungkapan literal, yang dalam kasus Arthur seringkali mencerminkan ketidaknyamanan emosional, kebingungan, atau upaya untuk melarikan diri dari konfrontasi.Pelanggaran Maksim Kuantitas dan Kualitas lebih lanjut mencerminkan upaya Arthur untuk mengelola atau menyembunyikan informasi, baik dengan memberikan terlalu sedikit, terlalu banyak, atau dengan memberikan pernyataan yang tidak benar.Strategi ini mengungkapkan bagaimana Arthur menawar realitas sosialnya dengan mengendalikan seberapa banyak kebenaran yang dia paparkan.Ucapan Arthur sering berfungsi sebagai perisai pelindung, baik untuk menyembunyikan kerentanan atau untuk membentuk versi dirinya yang dia inginkan orang lain lihat.Pandangan Levinson bahwa pembicara memanipulasi konten informasi untuk membentuk interpretasi sangat terlihat di sini, karena respons yang tidak konsisten atau berlebihan Arthur menjadi jendela ke dalam identitas yang tidak stabil dan cengkeraman yang bergeser terhadap realitas.Sementara itu, pelanggaran Maksim Cara menyoroti ambiguitas Arthur, respons yang tidak jelas, dan komunikasi nonverbal.Ekspresi tidak teratur atau tidak langsung ini menciptakan implikatur kompleks yang berkontribusi pada penggambaran fragmentasi mental Arthur.Gestur, keheningan, dan cara-cara anehnya merespons menunjukkan bahwa komunikasinya tidak hanya menyimpang secara linguistik tetapi juga sangat terkait dengan perjuangan psikologisnya.Argumen Thomas bahwa makna tergantung bukan hanya pada apa yang dikatakan tetapi juga bagaimana cara penyampaiannya tercermin dalam penggambaran film tentang stabilitas komunikatif Arthur yang semakin memburuk.Cara ekspresinya yang tidak jelas mencerminkan ketidakmampuannya yang semakin meningkat untuk menavigasi norma sosial atau mempertahankan interaksi yang koheren.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengembangkan analisis lebih lanjut tentang bagaimana pelanggaran maksim dalam film Joker mencerminkan ketidakstabilan psikologis dan konflik sosial. Penelitian ini dapat mengeksplorasi lebih dalam bagaimana pelanggaran maksim berfungsi sebagai perangkat naratif untuk menyampaikan perkembangan karakter dan kedalaman tematik. Dengan menggunakan teori pragmatis, penelitian dapat menyelidiki bagaimana pelanggaran maksim mengungkapkan motivasi, ketakutan, dan frustrasi Arthur yang tidak dapat diungkapkan secara langsung.. . 2. Memperluas penelitian untuk menyelidiki bagaimana pelanggaran maksim dalam film Joker merefleksikan tema-tema sosial yang lebih luas, seperti alienasi, kelalaian sosial, dan konsekuensi dari menjadi terpinggirkan dalam masyarakat. Penelitian ini dapat menganalisis bagaimana pelanggaran maksim berfungsi sebagai kritik sosial dan bagaimana film tersebut menggambarkan dampak dari ketidakpedulian masyarakat terhadap penderitaan individu.. . 3. Menganalisis lebih lanjut bagaimana pelanggaran maksim dalam film Joker mencerminkan hubungan kekuasaan antara karakter. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana pelanggaran maksim digunakan untuk menegaskan dominasi, menantang otoritas, atau mengungkapkan ketimpangan sosial. Dengan menggunakan teori pragmatis, penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana pelanggaran maksim mengungkapkan dinamika kekuasaan dan hubungan interpersonal antara karakter dalam film.

Read online
File size444.21 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test