UNESAUNESA

Jurnal Dialektika Pendidikan IPSJurnal Dialektika Pendidikan IPS

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk interaksi sosial antara murid inklusi dan murid reguler di kelas VII SMPN 4 Sidoarjo serta mengidentifikasi peran guru dan hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi berlangsung secara bertahap dan bersifat dinamis. Bentuk interaksi yang terjalin meliputi kerja sama dalam pembelajaran, solidaritas sosial, serta tumbuhnya penerimaan sosial dan empati. Program Sobat Inklusi menjadi salah satu sarana efektif dalam mendorong interaksi yang suportif dan setara. Guru berperan sebagai fasilitator, mediator konflik, serta pemberi pemahaman sosial yang membantu menciptakan iklim kelas inklusif. Namun demikian, ditemukan tantangan seperti ketakutan atau kecanggungan murid reguler dalam menghadapi perilaku emosional murid inklusi yang sulit diprediksi.

Interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi di kelas VII menunjukkan kecenderungan yang cukup positif.Murid reguler mampu menunjukkan sikap penerimaan, toleransi, dan empati terhadap murid inklusi.Interaksi ini terwujud dalam bentuk kolaborasi pembelajaran, solidaritas, dan pemahaman antar individu.Meskipun masih terdapat hambatan dalam komunikasi dan partisipasi aktif dari murid inklusi, kebiasaan berinteraksi yang berulang membantu terciptanya hubungan sosial yang lebih inklusif dan setara.Guru dan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sosial inklusif melalui strategi pembelajaran, pendampingan, dan program solidaritas.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, mengeksplorasi lebih lanjut strategi pembelajaran kolaboratif yang efektif dalam meningkatkan interaksi sosial antara murid reguler dan inklusi, serta bagaimana peran guru dalam memfasilitasi kolaborasi tersebut. Kedua, meneliti dampak program Sobat Inklusi terhadap peningkatan empati dan penerimaan sosial murid reguler, serta bagaimana program ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Ketiga, mempelajari tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi murid inklusi dalam berinteraksi, dan mengembangkan strategi intervensi yang dapat membantu mereka mengatasi hambatan komunikasi dan partisipasi aktif.

  1. Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial pada Anak Autis Melalui Terapi Bermain Assosiatif | JHeS (Journal... doi.org/10.31101/jhes.1048Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial pada Anak Autis Melalui Terapi Bermain Assosiatif JHeS Journal doi 10 31101 jhes 1048
  2. Interaksi Sosial dalam Proses Pembelajaran | PALAPA. interaksi sosial proses pembelajaran palapa quick... doi.org/10.36088/palapa.v7i1.194Interaksi Sosial dalam Proses Pembelajaran PALAPA interaksi sosial proses pembelajaran palapa quick doi 10 36088 palapa v7i1 194
Read online
File size376.64 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test