ISI DPSISI DPS

Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific ArtsLekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts

Saat ini jumlah siswa yang terlibat dalam tindakan kriminal sangat mengkhawatirkan. Dalam merespons hal ini, peran orang tua, guru di sekolah, dan pemerintah sangat penting dalam memperkuat pembentukan karakter, khususnya pada generasi emas, yaitu siswa. Penguatan pendidikan karakter seharusnya tidak hanya dilakukan melalui jalur formal, tetapi juga melalui jalur nonformal dan informal. Sanggar seni dapat menjadi wadah yang menawarkan alternatif pembentukan karakter. Namun, dalam proses transfer ilmu di sanggar, ditemui beberapa masalah, termasuk rendahnya peningkatan kemampuan siswa dalam belajar gender (instrumen musik Bali). Oleh karena itu, video pembelajaran gender wayang dirancang dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter bagi generasi milenial. Desain video pembelajaran gender wayang untuk membantu membangun karakter generasi milenial menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan studi lapangan dengan mewawancarai sutradara dan tim produksi yang terlibat dalam pembuatan video pembelajaran. Selain itu, dilakukan observasi di salah satu sanggar di Bali yang memiliki cukup banyak siswa, yaitu Sanggar Swasti Swara. Desain dan pembuatan video pembelajaran gender wayang bagi generasi milenial dimulai dengan melakukan analisis target terhadap generasi milenial. Sanggar Swasti Swara merupakan tempat yang dapat ditemukan generasi milenial yang membutuhkan bentuk pengajaran berbasis teknologi. Oleh karena itu, video pembelajaran gender wayang menjadi solusi bagi generasi ini. Video pembelajaran ini dirancang agar mudah diakses, yaitu memiliki kualitas video yang baik yang dapat dikirim melalui ponsel dan disimpan di kanal YouTube sehingga mudah diakses dan didistribusikan. Generasi milenial di Sanggar Swasti Swara cenderung menyukai pembelajaran dari praktik, visual, serta proses pembelajaran yang dapat dilakukan di rumah secara berkelompok dan menyenangkan. Selain itu, nilai-nilai pendidikan karakter kebangsaan dapat dimasukkan ke dalam naskah video pembelajaran gender wayang, yaitu nilai religius, toleransi, kerja keras, dan cinta tanah air.

Desain dan pembuatan video pembelajaran gender wayang untuk generasi milenial memerlukan analisis target terhadap karakteristik usia, gaya belajar, dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan generasi tersebut.Video pembelajaran ini dirancang sebagai solusi teknologi yang mudah diakses melalui ponsel dan YouTube, sesuai dengan kecenderungan generasi milenial yang melek teknologi dan menyukai pembelajaran visual serta interaktif.Nilai-nilai pendidikan karakter seperti religiusitas, toleransi, kerja keras, dan cinta tanah air telah diintegrasikan dalam naskah video untuk mendukung pembentukan karakter siswa secara menyeluruh.

Pertama, perlu dikaji efektivitas video pembelajaran gender wayang dalam jangka panjang terhadap perkembangan karakter siswa, dengan membandingkan kelompok yang menggunakan video secara rutin dan yang tidak, untuk mengetahui dampak nyata dalam pembentukan nilai religius, toleransi, dan kerja keras. Kedua, sebaiknya dikembangkan versi interaktif dari video pembelajaran ini dengan fitur latihan daring, umpan balik otomatis, dan sistem progres belajar, agar dapat menyesuaikan dengan gaya belajar multitasking dan kebutuhan edutainment generasi milenial. Ketiga, perlu dilakukan penelitian tentang adaptasi model pembelajaran ini ke berbagai daerah di Indonesia dengan konteks budaya dan akses teknologi yang berbeda, untuk melihat sejauh mana model ini dapat direplikasi dalam memperkuat pendidikan karakter melalui seni tradisional di luar Bali. Penelitian-penelitian tersebut akan membantu memperluas manfaat video pembelajaran tidak hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai media transformasi karakter yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang lebih personal, terukur, dan inklusif, pembelajaran seni tradisional dapat menjadi bagian integral dari kurikulum nonformal di seluruh Indonesia. Selain itu, integrasi unsur budaya lokal dalam konten pembelajaran perlu dieksplorasi lebih dalam agar peserta didik tidak hanya menguasai teknik bermain, tetapi juga memahami makna filosofis di balik setiap elemen seni. Penelitian lanjutan juga dapat mengamati peran kolaborasi antara sanggar, sekolah, dan keluarga dalam mendukung penggunaan video secara konsisten. Hal ini penting karena pembentukan karakter memerlukan lingkungan yang sinergis. Dengan pengembangan model berbasis bukti dan kontekstual, dampak pendidikan karakter melalui media digital dapat menjadi lebih terukur dan luas. Peningkatan kualitas produksi dan relevansi konten akan memastikan bahwa generasi muda tetap terhubung dengan akar budayanya melalui pendekatan modern.

  1. Gender Wayang Learning Video Design to Build the Characters of The Millennial Generation | Lekesan: Interdisciplinary... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/lekesan/article/view/2205Gender Wayang Learning Video Design to Build the Characters of The Millennial Generation Lekesan Interdisciplinary jurnal isi dps ac index php lekesan article view 2205
  2. Rumah Kreatif Desa Musi Gerokgak | Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni. rumah kreatif musi gerokgak... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/segarawidya/article/view/679Rumah Kreatif Desa Musi Gerokgak Segara Widya Jurnal Penelitian Seni rumah kreatif musi gerokgak jurnal isi dps ac index php segarawidya article view 679
Read online
File size275.16 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test