IIESECOREIIESECORE

EDUCATIONEEDUCATIONE

Female nurses commonly face dual-role demands from shift-based clinical work and family responsibilities, which can heighten marital role conflict and threaten work–family balance. This study examined the association between perceived workload and marital role conflict among married female nurses at PKU Muhammadiyah Hospital, Temanggung. Using a quantitative correlational design, data were collected from 90 married female nurses selected through proportionate stratified random sampling. Workload was measured with the NASA Task Load Index (NASA–TLX), while marital role conflict was assessed using the Work–Family Conflict Scale developed by Netemeyer et al. (1996). Pearson correlation analysis showed a positive and statistically significant relationship between workload and marital role conflict (r = 0.311; p = 0.003), indicating that higher perceived workload is associated with greater conflict in fulfilling marital and family roles. These findings suggest that workload—particularly in shift-based nursing—may contribute to strain at home through reduced time, energy depletion, and emotional fatigue. The study concludes that hospital management should prioritize more proportional workload allocation and fairer shift arrangements, complemented by supportive programs (e.g., stress management, supervisor support, and work–family facilitation) to protect nurses well-being and family functioning. Future research should employ longitudinal or mixed-method designs and test potential mediators/moderators such as job resources, social support, marital satisfaction, and coping strategies.

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara beban kerja dan konflik peran marital pada perawat wanita menikah di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Temanggung.Beban kerja yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan konflik dalam peran marital dan keluarga.Temuan ini menggarisbawahi pentingnya manajemen rumah sakit untuk mengoptimalkan alokasi beban kerja dan pengaturan shift, serta menyediakan dukungan yang memadai bagi kesejahteraan perawat dan fungsi keluarga mereka.Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menggunakan desain longitudinal atau metode campuran guna menguji mediator dan moderator yang mungkin memengaruhi hubungan ini.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian longitudinal diperlukan untuk menguji hubungan sebab-akibat antara beban kerja dan konflik peran marital, serta untuk memahami bagaimana hubungan ini berkembang seiring waktu. Kedua, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menggali pengalaman subjektif perawat wanita menikah dalam menghadapi beban kerja dan konflik peran, serta strategi koping yang mereka gunakan. Ketiga, penelitian yang melibatkan mediator dan moderator potensial, seperti dukungan sosial dari rekan kerja dan keluarga, kepuasan marital, dan strategi pengaturan waktu, dapat membantu menjelaskan mekanisme yang mendasari hubungan antara beban kerja dan konflik peran marital. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika work-life balance pada perawat wanita menikah, dan memberikan dasar bagi pengembangan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan kualitas hubungan keluarga mereka. Dengan demikian, rumah sakit dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung dan berkelanjutan bagi perawat wanita, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/0003-066X.44.3.513APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 0003 066X 44 3 513
Read online
File size243.85 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test