IAI TABAHIAI TABAH

Alamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran IslamAlamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam

Penelitian ini membahas konten dakwah digital yang berkembang di media baru sebagai respon terhadap budaya hedonisme, dengan menggunakan pendekatan dakwah kontemporer. Budaya hedonisme di media digital tidak lagi sekadar mengejar kesenangan pribadi, melainkan bertransformasi menjadi budaya pencitraan diri, komodifikasi kebahagiaan, dan pengakuan sosial berbasis angka digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik budaya hedonisme yang berkembang dalam ekosistem media baru serta mengevaluasi bentuk-bentuk konten dakwah digital yang responsif terhadap fenomena tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini memanfaatkan sumber literatur ilmiah, teori dakwah kontemporer, teori media baru, serta teori budaya hedonisme sebagai pisau analisis. Teknik analisis dilakukan secara tematik melalui tahapan kategorisasi isu, sintesis teori, dan interpretasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya hedonisme di media baru memiliki tiga ciri utama yaitu visualisasi ekstrem terhadap gaya hidup konsumtif, komodifikasi citra diri sebagai sumber kebahagiaan, dan eksistensi digital sebagai tolok ukur nilai sosial. Merespons hal tersebut, konten dakwah digital berkembang dalam tiga bentuk: (1) naratif-visual estetik untuk menarik emosi dan atensi; (2) microlearning dakwah yang komunikatif dan ringkas; dan (3) konten reflektif-kritis yang menantang budaya pamer dan membangun kesadaran spiritual. Implikasi penelitian ini memperlihatkan bahwa dakwah digital perlu memainkan peran strategis tidak hanya sebagai media dakwah konvensional, tetapi juga sebagai ruang kontra-kultural yang menghadirkan alternatif nilai atas dominasi budaya hedonistik di ruang digital.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya hedonisme di media baru telah bertransformasi menjadi gaya hidup yang menekankan pencitraan diri, konsumsi, dan pengakuan sosial berbasis angka digital.Dakwah digital perlu beradaptasi dengan karakteristik media baru, namun tetap mempertahankan nilai-nilai Islam yang mendalam.Bentuk konten dakwah yang efektif meliputi naratif visual estetik, microlearning dakwah, dan konten reflektif-kritis yang menantang budaya hedonisme.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian komparatif mengenai efektivitas berbagai bentuk konten dakwah digital dalam mempengaruhi sikap dan perilaku generasi muda terhadap budaya hedonisme. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis mendalam mengenai peran algoritma media sosial dalam membentuk preferensi konten dan dampaknya terhadap penyebaran nilai-nilai Islam. Ketiga, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi potensi kolaborasi antara dai digital dengan influencer media sosial dalam menciptakan konten dakwah yang lebih menarik dan relevan bagi audiens yang lebih luas. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan strategi dakwah digital yang lebih efektif dan kontekstual di era media baru, serta membantu memperkuat identitas spiritual generasi muda di tengah arus budaya hedonistik yang semakin kuat. Dengan demikian, dakwah digital tidak hanya menjadi alat penyampaian pesan agama, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang mampu menginspirasi dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih bermakna dan berkualitas.

  1. Medical Science Monitor | The Effects of Online Homeschooling on Children, Parents, and Teachers of Grades... doi.org/10.12659/MSM.925591Medical Science Monitor The Effects of Online Homeschooling on Children Parents and Teachers of Grades doi 10 12659 MSM 925591
Read online
File size291.23 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test