UBUB

The Journal of Experimental Life ScienceThe Journal of Experimental Life Science

Variasi morfologi pada spesies dengan distribusi yang relatif luas, termasuk genus Tytthoscincus, kemungkinan besar merupakan hasil dari isolasi pulau. Penelitian ini dilakukan untuk memetakan variasi morfologi genus Tytthoscincus di Indonesia. Sebanyak 32 spesimen koleksi ilmiah Tytthoscincus dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diidentifikasi sebagai T. temmincki, T. textus, dan T. parvus telah diperiksa dan data dikumpulkan yang mencakup enam karakter morfometri dan 12 karakter meristik. Data morfometri dianalisis secara univariat dan multivariat. Analisis univariat dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis, sedangkan analisis multivariat dilakukan dengan uji Analisis Komponen Utama (PCA). Hasil penelitian menunjukkan morfologi pada T. temmincki dan T. textus, yaitu jumlah sisik loreal dan diameter timpani. Baik T. temmincki maupun T. textus terdiri dari dua kelompok, tetapi variasi morfologi pada T. temmincki dan T. textus dalam penelitian ini belum memberikan kepastian sebagai spesies yang berbeda. Namun, terdapat satu T. textus Tipe 2, yang terisolasi dari spesies lain di Pulau Jampea, Sulawesi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi status taksonomi variasi ini dengan meningkatkan jumlah sampel yang memadai yang didukung oleh pendekatan analisis molekuler.

textus didasarkan pada jumlah sisik loreal dan diameter timpani.Variasi morfologi dalam penelitian ini pada T.textus belum memberikan kepastian sebagai spesies yang berbeda.textus Tipe 2, yang terisolasi dari spesies lain di Pulau Jampea, Sulawesi.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi status taksonomi variasi ini dengan meningkatkan jumlah sampel yang memadai yang didukung oleh pendekatan analisis molekuler.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan untuk memperdalam pemahaman tentang genus Tytthoscincus di Indonesia. Pertama, perlu dilakukan studi filogeografis yang lebih komprehensif dengan menggunakan data molekuler untuk mengidentifikasi unit evolusioner yang sebenarnya dan memahami pola penyebaran spesies Tytthoscincus di berbagai pulau di Indonesia. Hal ini akan membantu dalam mengklarifikasi status taksonomi variasi morfologi yang ditemukan, terutama pada T. textus Tipe 2 dari Pulau Jampea. Kedua, penelitian lebih lanjut dapat difokuskan pada analisis ekologi dan perilaku spesies Tytthoscincus di habitat aslinya. Dengan memahami preferensi habitat, pola makan, dan interaksi dengan spesies lain, kita dapat memperoleh wawasan tentang faktor-faktor yang mendorong divergensi morfologi dan adaptasi lokal. Ketiga, penting untuk melakukan studi komparatif yang melibatkan lebih banyak sampel dari berbagai populasi Tytthoscincus, termasuk sampel dari pulau-pulau kecil yang terisolasi, untuk mengidentifikasi potensi variasi genetik dan morfologi yang tersembunyi. Kombinasi dari pendekatan molekuler, morfologi, dan ekologi akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keanekaragaman dan evolusi genus Tytthoscincus di Indonesia.

  1. The transfer of two clades of Malaysian Sphenomorphus Fitzinger (Squamata: Scincidae) into the genus... doi.org/10.11646/zootaxa.4092.2.6The transfer of two clades of Malaysian Sphenomorphus Fitzinger Squamata Scincidae into the genus doi 10 11646 zootaxa 4092 2 6
Read online
File size1.18 MB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test