ASY SYUKRIYYAHASY SYUKRIYYAH

Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (JIQTA)Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (JIQTA)

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap potret kajian tafsir Al-Quran di masyarakat Betawi, dengan mengambil studi kasus pada beberapa majelis taklim di kalangan masyarakat Betawi yang dipimpin oleh ulama Betawi. Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana dinamika kajian tafsir Al-Quran dalam masyarakat Betawi, terutama ketika muncul isu penistaan agama terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta, Ahok? Artikel ini ditulis menggunakan teori konstruksi interpretatif Gadamer yang mencakup elemen sejarah penafsir, pra-pemahaman, horizon teks, dan pembacaan. Artikel ini menunjukkan bahwa kajian tafsir Al-Quran di masyarakat Betawi telah berlangsung selama beberapa tahun. Secara umum, masyarakat Betawi menjadikan masjid dan mushala sebagai majelis taklim atau tempat mencari ilmu agama yang dipandu oleh ustaz atau yang dulu dikenal sebagai mualim. Pola kajian yang dihasilkan tidak terlepas dari latar sosial dan pendidikan pengajarnya, sehingga setiap objek penelitian memiliki karakter yang khas. Metode pengajiannya bersifat tematik, baik mengikuti isu-isu yang berkembang maupun mengikuti urutan juz dalam mushaf Al-Quran.

Kajian tafsir Al-Quran di masyarakat Betawi memiliki corak yang dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan dan sosial pengajarnya.Dalam merespons peristiwa politik 2017 yang melibatkan Ahok, tidak terjadi fatwa seragam dari para pengajar tafsir untuk mengharamkan pemimpin non-Muslim atau mendukung dakwaan penistaan agama.Keragaman sikap ini dipengaruhi oleh pengalaman dan tingkat pendidikan para pengajar.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh latar pendidikan pesantren modern terhadap pola penafsiran Al-Quran oleh ulama Betawi dalam menyikapi isu-isu politik kontemporer. Kedua, perlu dilakukan studi komparatif mengenai perbedaan pendekatan tafsir antara majelis taklim yang dipimpin ulama pribumi Betawi dengan majelis yang dipengaruhi oleh ulama dari luar Betawi, terutama dalam konteks isu kepemimpinan dan kebinekaan. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi bagaimana generasi muda Betawi memahami dan menginternalisasi nilai-nilai tafsir yang disampaikan dalam pengajian, serta bagaimana mereka menafsirkan ayat-ayat politik seperti Al-Maidah ayat 51 dalam kehidupan sosial dan politik masa kini. Penelitian-penelitian ini dapat membuka wawasan baru mengenai dinamika tafsir lokal yang inklusif, menilai pengaruh institusi pendidikan agama terhadap keragaman pandangan, serta memahami transmisi pemahaman keagamaan antar generasi di tengah perubahan sosial yang cepat. Dengan demikian, hasilnya dapat menjadi dasar untuk memetakan evolusi wacana keagamaan di masyarakat perkotaan multikultural seperti Betawi.

Read online
File size956.26 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test