STIBASTIBA

JAWAMI'UL KALIM: Jurnal Kajian HadisJAWAMI'UL KALIM: Jurnal Kajian Hadis

Hadis-hadis yang menyebutkan sifat ketawa Allah Swt. merupakan bagian dari pembahasan yang kompleks dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam kajian Asmā wa Ṣifāt. Sifat ini termasuk kategori sifat khabariyyah (berdasarkan berita) yang secara lahiriah menyerupai perbuatan makhluk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam hadis-hadis yang menyebut ketawa Allah, validitas sanadnya, makna yang dikandungnya, serta pendekatan para ulama dalam menafsirkannya. Dengan metode studi kepustakaan dan pendekatan deskriptif-analitis, makalah ini menunjukkan keberagaman pendekatan antara golongan Salaf dan Khalaf dalam memahami sifat ini. Di satu sisi, pemahaman literal diterima dalam batas tanzih (penyucian dari keserupaan), dan di sisi lain, terdapat pendekatan takwil. Kajian ini menegaskan pentingnya prinsip bilā kayf dan kehati-hatian dalam memahami sifat Allah agar terhindar dari penyimpangan akidah.

Kajian hadis tematik tentang sifat tertawa Allah mengungkapkan adanya dua corak pandangan utama di kalangan ulama Islam dalam memahami sifat-sifat ilahiyah.Perbedaan ini terletak pada metodologi penafsiran teks-teks Al-Quran dan Sunnah yang tampaknya mengindikasikan sifat-sifat fisik atau emosi pada Allah.Pandangan Salaf, yang dianut oleh ulama terdahulu dan sebagian besar Hanabilah, mengedepankan prinsip itsbat bilā kayf wa bilā tawīl (menetapkan tanpa menanyakan cara dan tanpa penafsiran menyimpang).Mereka mengimani bahwa Allah benar-benar tertawa sebagaimana disebutkan dalam hadis, namun menegaskan bahwa tawa-Nya sama sekali tidak serupa dengan tawa makhluk.Cara dan hakikat tawa Allah sepenuhnya berada di luar pemahaman manusia dan diserahkan kepada Allah.Pendekatan ini berpegang teguh pada makna lahiriah teks sambil menjaga kesucian Allah dari segala penyerupaan (tanzih).Sebaliknya, pandangan Khalaf, yang banyak dianut oleh ulama Asyariyah dan Maturidiyah, cenderung menggunakan metode tawīl (penafsiran metaforis).Mereka menafsirkan tertawa Allah sebagai kiasan untuk keridhaan, pemberian pahala, atau manifestasi kebaikan-Nya, karena khawatir pemahaman literal akan mengarah pada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk).Bagi mereka, tawa fisik tidak mungkin terjadi pada Allah yang Maha Suci dari sifat-sifat jasmani.Dalam perbandingan ini, pandangan Salaf dinilai lebih sesuai dengan kebenaran.Hal ini karena ia menunjukkan kepatuhan penuh terhadap nash (teks) tanpa perlu mengubah makna aslinya melalui penafsiran.Meskipun pandangan Khalaf bermaksud baik untuk menjaga tanzih Allah, metode tawīl yang mereka gunakan berpotensi mengosongkan makna hakiki dari sifat-sifat ilahiyah yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya.Pandangan Salaf mampu mempertahankan keutuhan makna wahyu sekaligus menegaskan kemahasucian Allah yang mutlak dari segala kekurangan dan keserupaan dengan ciptaan-Nya.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, perlu dilakukan kajian komparatif yang lebih mendalam tentang metode penafsiran hadis-hadis khabariyyah antara mazhab Salaf dan Khalaf, dengan mempertimbangkan konteks historis dan teologis masing-masing mazhab. Kedua, penelitian dapat fokus pada analisis linguistik dan kontekstual terhadap lafaz yaḍḥakullāh, termasuk pemahaman makna dan implikasinya dalam tradisi Islam. Ketiga, studi tentang pendekatan tanzih dan takwil dalam memahami sifat-sifat Allah dapat dikembangkan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti akidah, metodologi, dan implikasi etis.

Read online
File size651.92 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test