UBHARAJAYAUBHARAJAYA

SOCIAL PHILANTHROPICSOCIAL PHILANTHROPIC

Pemutusan hubungan adalah suatu yang normal terjadi dalam dinamika hubungan, namun pada beberapa kasus, berakhirnya hubungan atau jalinan cinta akan berdampak stress sehingga melakukan perbuatan yang dapat menyakiti dirinya sendiri. Hal ini dilakukan seseorang untuk mengatasi rasa sakit secara emosional, kekosongan diri, kesepian, kehilangan, dan memuaskan keinginan untuk menghukum diri sendiri dengan menyebabkan luka luka pada tubuhnya, hal ini disebut dengan istilah self injury. Self injury adalah bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk mengatasi rasa sakit secara emosional, perilaku ini dilakukan dengan sangat sengaja tetapi individu tersebut tidak berniat untuk bunuh diri. Salah satu yang mempengaruhi self injury adalah self esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara self esteem dengan self injury pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang mengalami putus cinta. Hasil uji korelasi non paramterik Spearmans Rho didapatkan hubungan sebesar -0,403** dengan signifikansi 0,000 (p < 0,001). Hasil menunjukkan adanya hubungan dengan arah korelasi negative yang signifikan antara self esteem dengan self injury pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang mengalami putus cinta. Artinya, semakin tinggi self esteem pada mahasiswa maka semakin rendah mahasiswa melakukan self injury, begitupun sebaliknya.

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self esteem dan kecenderungan self injury pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang mengalami putus cinta.Arah korelasi negatif mengindikasikan bahwa semakin rendah self esteem, semakin tinggi kecenderungan melakukan self injury, dan sebaliknya.Temuan ini menggarisbawahi pentingnya peran self esteem dalam kesehatan mental mahasiswa yang menghadapi pengalaman putus cinta.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menggali lebih dalam faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap perilaku self injury pada mahasiswa, seperti dukungan sosial, mekanisme koping, dan riwayat trauma. Kedua, penelitian kualitatif dapat digunakan untuk memahami pengalaman subjektif mahasiswa yang melakukan self injury, termasuk motivasi, perasaan, dan proses pengambilan keputusan mereka. Ketiga, pengembangan dan evaluasi program intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan self esteem dan keterampilan mengatasi stres pada mahasiswa yang mengalami putus cinta perlu dilakukan. Program ini dapat mencakup pelatihan keterampilan sosial, terapi kognitif perilaku, atau kelompok dukungan sebaya. Penelitian lanjutan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena self injury pada mahasiswa dan berkontribusi pada pengembangan strategi pencegahan dan penanganan yang lebih efektif.

  1. Overview of Self-Esteem in Adolescent Behavior that do Self-Injury (Case Studies) | Prastuti | International... ijmmu.com/index.php/ijmmu/article/view/926Overview of Self Esteem in Adolescent Behavior that do Self Injury Case Studies Prastuti International ijmmu index php ijmmu article view 926
  2. KESEPIAN DAN KEINGINAN MELUKAI DIRI SENDIRI REMAJA | Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi. kesepian melukai... doi.org/10.15575/psy.v2i2.459KESEPIAN DAN KEINGINAN MELUKAI DIRI SENDIRI REMAJA Psympathic Jurnal Ilmiah Psikologi kesepian melukai doi 10 15575 psy v2i2 459
Read online
File size205.73 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test