UNTARUNTAR

Jurnal Mitra Teknik Industri (JMTI)Jurnal Mitra Teknik Industri (JMTI)

Industri manufaktur baterai otomotif menghadapi tantangan dalam efektivitas sistem pemeliharaan mesin, khususnya pada mesin heat seal yang memiliki tingkat downtime tertinggi dengan total waktu 12.722 menit dan frekuensi 434 kali selama April 2024 hingga Maret 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemborosan dalam aktivitas breakdown maintenance, menganalisis akar penyebabnya, dan memberikan saran perbaikan berbasis lean maintenance. Metode yang digunakan adalah Maintenance Value Stream Mapping (MVSM) untuk mengidentifikasi aktivitas aktivitas bernilai tambah (VA), tidak bernilai tambah (NVA), dan menghitung efisiensi pemeliharaan berdasarkan indikator MTTO, MTTR, MTTY, dan MMLT. Selain itu, dilakukan analisis akar penyebab menggunakan metode five whys dan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan efisiensi perawatan hanya sebesar 32,97% dengan dominasi aktivitas NVA sebesar 67,03%. Pemborosan yang teridentifikasi meliputi waiting, motion, process, dan defect. Usulan perbaikan mencakup penerapan floating technician, penambahan troli, digitalisasi sistem maintenance menggunakan Computerized Maintenance Management System (CMMS), serta penempatan toolbox dan troli peralatan dalam lantai kerja produksi. Penerapan future state map menunjukkan peningkatan efisiensi menjadi 38,22% dan penurunan aktivitas NVA menjadi 61,78%. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan lean maintenance melalui MVSM efektif dalam mengurangi waste dan meningkatkan keandalan sistem pemeliharaan mesin.

Penelitian ini menunjukkan pemborosan tinggi pada breakdown maintenance mesin heat seal, dengan efisiensi perawatan hanya mencapai 32,97%.Melalui pendekatan lean maintenance dengan MVSM dan analisis five whys, teridentifikasi berbagai waste (waiting, motion, process, defect) yang disebabkan oleh keterbatasan teknisi, ketidaksiapan peralatan, sistem spare part yang tidak terintegrasi, serta ketiadaan CMMS.Saran perbaikan seperti floating technician, penempatan peralatan, dan digitalisasi melalui CMMS berhasil meningkatkan efisiensi perawatan menjadi 38,22% dan mengurangi aktivitas non-nilai tambah, membuktikan MVSM efektif untuk optimasi pemeliharaan dan mengurangi downtime.

Saran penelitian lanjutan dapat berfokus pada beberapa aspek krusial untuk memperkuat efektivitas pemeliharaan di industri manufaktur. Pertama, mengingat usulan digitalisasi sistem pemeliharaan melalui Computerized Maintenance Management System (CMMS) yang baru diterapkan, studi mendalam perlu dilakukan untuk mengeksplorasi potensi penuh integrasi CMMS secara menyeluruh. Penelitian dapat menanyakan bagaimana sistem CMMS yang terintegrasi secara komprehensif, mungkin dengan bantuan kecerdasan buatan atau pembelajaran mesin, dapat tidak hanya meningkatkan efisiensi pemeliharaan reaktif, tetapi juga memfasilitasi transisi menuju pemeliharaan prediktif yang lebih canggih, misalnya dengan menganalisis pola kegagalan mesin secara otomatis dan merekomendasikan intervensi sebelum kerusakan terjadi. Ini akan memungkinkan perusahaan untuk bergerak melampaui perbaikan pasca-kerusakan dan mencapai tingkat keandalan operasional yang lebih tinggi. Kedua, penting untuk melakukan evaluasi keberlanjutan dari implementasi saran perbaikan yang telah diberikan. Penelitian selanjutnya dapat menguji apakah peningkatan efisiensi yang teridentifikasi dalam *future state map* dapat dipertahankan dalam jangka panjang, serta bagaimana adaptabilitas solusi tersebut terhadap perubahan volume produksi, jenis produk, atau bahkan teknologi mesin baru. Studi ini juga bisa mengidentifikasi faktor-faktor kunci keberhasilan atau kegagalan dalam mempertahankan praktik lean maintenance dan mengukur dampaknya terhadap budaya kerja. Terakhir, mengingat tantangan perusahaan dalam mengoptimalkan sistem *preventive maintenance* dari berbasis bulanan ke *running hour*, penelitian dapat menyelidiki strategi transisi optimal untuk sistem pemeliharaan pencegahan. Hal ini termasuk mengevaluasi implementasi teknologi sensor Internet of Things (IoT) pada mesin *heat seal* dan mesin kritis lainnya untuk pengumpulan data *real-time*, serta mengembangkan model analitik untuk menentukan jadwal pemeliharaan yang paling efisien berdasarkan kondisi aktual mesin, bukan hanya jam operasional, sehingga dapat mengurangi frekuensi *breakdown maintenance* dan meningkatkan Overall Equipment Effectiveness (OEE) secara signifikan di seluruh lini produksi.

Read online
File size596.38 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test