UNSURUNSUR

Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan PembelajarannyaDinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya

Artikel ini akan mengungkap hubungan intertekstual antara naskah drama “Janji Senja karya Taofan Nalisaputra dan puisi “Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar melalui analisis simbolik dengan pendekatan semiotik Riffaterre. Urgensi penelitian terletak pada minimnya kajian yang secara khusus menelaah transformasi simbol “senja lintas-genre, terutama dalam kerangka pembacaan heuristik dan hermeneutik yang menempatkan simbol sebagai pusat struktur makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan sumber data berupa teks primer dan literatur teoritis pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua teks memiliki matriks makna yang sama, yaitu senja sebagai representasi kehilangan dan ketiadaan, namun drama mengembangkan model baru berupa senja sebagai ruang penantian dan menghasilkan varian simbolik melalui personifikasi senja sebagai figur ayah. Transformasi makna ini menegaskan bahwa Janji Senja tidak hanya mereproduksi simbol dari puisi Chairil, tetapi menciptakan perluasan makna yang memperkaya tradisi simbol senja dalam sastra Indonesia.

Naskah drama Janji Senja dan puisi Senja di Pelabuhan Kecil memiliki hubungan intertekstual yang kuat melalui simbol senja sebagai pusat makna, dengan matriks makna yang sama, yaitu senja sebagai representasi kehilangan, ketiadaan, dan keterputusan emosional.Drama mengubah model makna puisi dengan mentransformasi senja menjadi ruang penantian yang berulang dan mempersonifikasikannya sebagai figur ayah, menunjukkan perpindahan makna dari kesendirian menuju harapan dan keteguhan batin.Transformasi ini membuktikan bahwa karya sastra baru tidak sekadar meniru teks sebelumnya, tetapi menciptakan varian simbolik yang memperkaya tradisi estetika sastra Indonesia.

Pertama, perlu diteliti bagaimana simbol senja dalam karya sastra Indonesia lintas generasi menggambarkan pergeseran nilai budaya terkait ketabahan dan penantian, khususnya dalam konteks keluarga pasca-permintaan tenaga kerja atau migrasi internal. Kedua, penelitian bisa diarahkan untuk menganalisis bentuk personifikasi elemen alam selain senja—seperti hujan, malam, atau angin—dalam naskah drama dan puisi modern, untuk melihat pola umum transformasi simbolik dalam sastra Indonesia. Ketiga, penting untuk mengkaji bagaimana pembaca dari latar belakang berbeda (usia, wilayah, latar pendidikan) menafsirkan simbol senja dalam drama dan puisi, guna memahami efek resepsi pembaca terhadap makna intertekstual dan simbolik. Penelitian-penelitian ini dapat memperdalam pemahaman tentang dinamika makna simbol dalam sastra dan memberikan dasar bagi pendekatan pembelajaran sastra yang lebih kontekstual. Dengan menggabungkan pendekatan semiotik dan studi resepsi, kita bisa melihat tidak hanya bagaimana makna diciptakan oleh pengarang, tetapi juga bagaimana makna itu ditafsirkan, dipertanyakan, dan diwariskan oleh pembaca. Temuan dari kajian semacam ini juga dapat digunakan untuk mengembangkan materi ajar sastra yang lebih sensitif terhadap dimensi budaya dan emosional. Lebih lanjut, pendekatan lintas disiplin dengan antropologi atau psikologi bisa membuka wawasan baru tentang fungsi simbol dalam proses pemahaman diri dan komunitas. Studi tentang simbol seperti senja juga bisa menjadi jembatan antara sastra klasik dan kontemporer dalam kurikulum pendidikan. Dengan cara ini, sastra tidak hanya diajarkan sebagai teks estetika, tetapi sebagai ruang mencerminkan transformasi sosial dan emosional. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sebaiknya tidak hanya fokus pada teks, tetapi juga pada konteks produksi dan resepsi makna secara luas.

  1. Vol. 4 No. 02 (2024): Artikel Riset Edisi Agustus 2024 | Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan. vol... doi.org/10.47709/educendikia.v4i02Vol 4 No 02 2024 Artikel Riset Edisi Agustus 2024 Edu Cendikia Jurnal Ilmiah Kependidikan vol doi 10 47709 educendikia v4i02
Read online
File size613.53 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test