UMSUMS

Indigenous: Jurnal Ilmiah PsikologiIndigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi

Masyarakat pesisir di Indonesia mengalami transformasi pesat akibat ekspansi industri; namun, sedikit yang diketahui tentang bagaimana keluarga beradaptasi terhadap gangguan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji praktik pengasuhan anak dan ketahanan keluarga di Mengare, Gresik, Jawa Timur, di tengah penurunan lingkungan dan pengucilan dari pekerjaan industri menyusul pengembangan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Menggunakan desain studi kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 14 orang tua dan anggota masyarakat, serta satu diskusi kelompok terfokus dengan enam guru, pejabat desa, dan tokoh agama. Analisis tematik, yang dipandu oleh kerangka ketahanan keluarga Walsh dan teori sistem ekologi Bronfenbrenner, mengungkapkan enam tema: tekanan ekonomi dan mata pencarian adaptif; proses pengasuhan anak dan ketahanan keluarga; kesenjangan pendidikan dan keterampilan; spiritualitas sebagai sumber koping dan pencarian makna; kohesi sosial dan ikatan komunitas; serta kekhawatiran dan ketidakpastian masa depan. Keluarga menunjukkan ketahanan dengan mereorganisasi peran mereka, mengandalkan spiritualitas komunal, dan menjaga kohesi sosial. Namun, dua tekanan membatasi proses ini: degradasi ekologi mengurangi hasil tangkapan ikan dan tambak, serta pengucilan industri membatasi akses ke pekerjaan baru. Norma pengasuhan menekankan harmoni dan kedekatan emosional tetapi memberikan dukungan perkembangan yang terbatas, sementara spiritualitas mempertahankan ketahanan vertikal tanpa membekali keluarga untuk beradaptasi secara horizontal terhadap tuntutan pasar tenaga kerja. Temuan menunjukkan bahwa ketahanan keluarga di Mengare ada tetapi terbatas, berlabuh pada ketahanan daripada transformasi. Implikasinya mencakup kebutuhan akan kebijakan terintegrasi dan program komunitas yang menjembatani kesenjangan sekolah-industri, memperkuat keterampilan non-teknis, dan mendorong upaya kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan institusi lokal untuk membangun ketahanan adaptif di tengah perubahan industri.

Studi ini menunjukkan bahwa keluarga di desa pesisir Mengare memiliki ketahanan dalam menghadapi disrupsi industri, ditandai dengan reorganisasi peran, ikatan spiritual dan komunal yang kuat, serta stabilitas emosional.Namun, ketahanan ini bersifat reaktif dan terbatas oleh faktor eksternal seperti akses pekerjaan industri yang minim, kesenjangan pendidikan-pasar kerja, serta norma budaya yang menghambat mobilitas dan pengembangan keterampilan adaptif anak.Untuk mencapai ketahanan yang transformatif, diperlukan dukungan kebijakan dan program terpadu yang mampu menjembatani kesenjangan edukasi, ekonomi, dan budaya, sehingga keluarga dapat beradaptasi dan mengambil manfaat dari perubahan industri.

Melihat temuan penelitian ini mengenai tantangan adaptasi dan ketahanan keluarga di komunitas pesisir yang terindustrialisasi, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat memberikan pemahaman lebih mendalam dan solusi praktis. Pertama, akan sangat berharga untuk meneliti efektivitas model intervensi terpadu yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, seperti keluarga, sekolah, industri, dan pemerintah daerah, dalam membangun modal sosial penghubung dan keterampilan adaptif horizontal bagi generasi muda. Misalnya, bagaimana program pelatihan vokasi yang dirancang bersama antara industri dan lembaga pendidikan lokal dapat secara efektif menjembatani kesenjangan keterampilan dan mengubah prospek pekerjaan anak-anak serta pola pikir adaptif mereka di masa depan? Penelitian semacam ini dapat mengidentifikasi elemen-elemen kunci dalam kurikulum yang relevan dan metode pengajaran yang inovatif. Kedua, penting untuk menggali lebih dalam mekanisme psikososial dan kultural yang membuat ketahanan keluarga di Mengare tetap terbatas dan lebih berorientasi pada daya tahan daripada transformasi. Studi etnografi atau analisis naratif yang mendalam bisa mengungkap bagaimana nilai-nilai komunal, praktik spiritual, dan norma pengasuhan yang mengutamakan harmoni turut membentuk ketahanan vertikal sambil secara tidak sengaja membatasi kemampuan adaptasi horizontal terhadap tuntutan modernisasi. Ketiga, mengingat studi ini berfokus pada perspektif orang tua dan tokoh masyarakat, penelitian selanjutnya harus menyertakan suara dan pengalaman langsung dari generasi muda. Mengkaji aspirasi, persepsi, dan strategi adaptasi anak-anak serta remaja di lingkungan pesisir yang berubah akan memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana mereka menghadapi tantangan industrialisasi dan mengembangkan identitas diri. Ini juga akan mengidentifikasi peran teknologi digital dalam memfasilitasi atau menghambat proses adaptasi mereka.

  1. DOI Name 10.22373 Values. name values index type timestamp data serv crossref email support desc prefix... doi.org/10.22373DOI Name 10 22373 Values name values index type timestamp data serv crossref email support desc prefix doi 10 22373
  2. Family Resilience: A Framework for Clinical Practice - Walsh - 2003 - Family Process - Wiley Online Library.... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1545-5300.2003.00001.xFamily Resilience A Framework for Clinical Practice Walsh 2003 Family Process Wiley Online Library onlinelibrary wiley doi 10 1111 j 1545 5300 2003 00001 x
  3. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/scp0000352APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 scp0000352
Read online
File size235.03 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test