NEWINERANEWINERA

Journal La SocialeJournal La Sociale

Era kontemporer menghadapi krisis identitas dan makna yang mendalam, seringkali dicirikan oleh nihilisme, yang menantang individu untuk membentuk makna personal dalam dunia yang semakin kehilangan nilai intrinsik. Studi ini menginvestigasi genealogi pemikiran Friedrich Nietzsche tentang hidup autentik, membandingkannya dengan konsep Islam tentang Insan Kamil dalam tradisi Sufi untuk mengatasi keterasingan modern. Mengadopsi desain penelitian kepustakaan kualitatif, studi ini menggunakan interpretasi dan analisis komparatif literatur filosofis primer dan literatur Islam kunci. Metode ini memungkinkan pemeriksaan mendalam terhadap konvergensi dan divergensi konseptual keduanya. Penelitian ini menemukan bahwa, meskipun memiliki fondasi ontologis yang berbeda, baik Ubermensch Nietzsche maupun Insan Kamil dalam Islam menekankan pemeriksaan diri, hidup sadar, dan penciptaan makna secara aktif. Kritik Nietzsche terhadap moralitas warisan beresonansi dengan ajaran Islam yang menentang imitasi buta dan kemunafikan, sementara seruannya untuk penegasan diri yang autentik paralel dengan prinsip-prinsip Sufi tentang perjuangan ego dan penyucian spiritual. Analisis komparatif ini menawarkan kerangka kerja baru untuk memahami dan berpotensi mengurangi masalah kontemporer seperti burnout, toxic positivity, dan kekosongan spiritual. Studi ini menyimpulkan bahwa kedua filosofi tersebut menyediakan jalur yang kuat menuju autentisitas dan tujuan yang sejati, menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan hidup yang sadar dan bertanggung jawab di dunia yang berubah dengan cepat.

Penelitian ini secara mendalam menginvestigasi konsep hidup autentik Friedrich Nietzsche dan membandingkannya dengan konsep Insan Kamil dalam tradisi Sufi, menyoroti konvergensi esensial pada pemeriksaan diri, hidup sadar, dan penciptaan makna dalam menghadapi krisis eksistensial kontemporer.Temuan menunjukkan bahwa kritik Nietzsche terhadap moralitas warisan selaras dengan ajaran Islam tentang penolakan imitasi buta, sementara seruan penegasan diri autentik memparalelkan prinsip Sufi tentang perjuangan ego dan penyucian spiritual, menawarkan kerangka kerja baru untuk mengatasi masalah modern seperti burnout dan kekosongan spiritual.Meskipun demikian, penelitian ini dibatasi oleh interpretasi filosofis.oleh karena itu, studi lanjutan perlu dilakukan untuk mengeksplorasi implikasi empiris konsep-konsep ini melalui metode kualitatif atau kuantitatif, serta mendalami pendekatan pedagogis Sufi untuk menumbuhkan ketahanan diri dan makna.

Mengingat bahwa penelitian ini bersifat interpretatif filosofis, ada beberapa arah menarik untuk studi lanjutan yang dapat memperkaya pemahaman kita. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan penelitian empiris guna mengeksplorasi secara konkret bagaimana individu modern menginternalisasi dan mengimplementasikan prinsip-prinsip hidup autentik ala Nietzsche atau konsep Insan Kamil dari tradisi Sufi dalam keseharian mereka. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana pengamalan ajaran-ajaran ini secara spesifik dapat memengaruhi tingkat stres, burnout, atau fenomena toxic positivity yang sering melanda masyarakat kontemporer, dan apakah ada perbedaan dampak signifikan antara konteks budaya Barat dan Islam? Kedua, penelitian dapat berfokus pada pengembangan model pedagogis atau kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan kedua filosofi ini. Bagaimana kita bisa merancang program yang mengajarkan generasi muda untuk melakukan pemeriksaan diri, menciptakan nilai-nilai pribadi, dan mencari makna spiritual yang mendalam, selaras dengan semangat Ubermensch dan Insan Kamil, untuk membekali mereka menghadapi kekosongan spiritual di era digital? Ketiga, menarik pula untuk menyelidiki tantangan dan peluang dalam mengaplikasikan konsep hidup autentik ini di lingkungan masyarakat yang sangat sekuler atau berorientasi materialistis. Bagaimana individu-individu di lingkungan tersebut menemukan ruang untuk menjadi diri sendiri secara sejati atau mencapai kesempurnaan diri tanpa ketergantungan pada nilai-nilai konvensional atau religius yang dominan, serta bagaimana mereka merekonsiliasi ajaran-ajaran filosofis yang mendalam ini dengan tuntutan hidup modern yang serba cepat?.

  1. Memahami desain metode penelitian kualitatif | Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum. memahami desain... doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075Memahami desain metode penelitian kualitatif Humanika Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum memahami desain doi 10 21831 hum v21i1 38075
Read online
File size582.08 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test