MANDALANURSAMANDALANURSA

Business ManagementBusiness Management

Penelitian ini menganalisis biaya produksi barang jadi dalam menentukan harga jual pada usaha tahu Bang Halim serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam perhitungan tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Satu kali produksi menghasilkan satu talang berisi 300 potong (1 × 1,2 meter), menggunakan 5 kg kedelai seharga Rp50.000 dan lima pekerja dengan upah Rp50.000 per produksi. Berdasarkan perhitungan pemilik, biaya produksi per potong adalah Rp333,34, per produksi Rp100.002, dan per bulan Rp45.000.900. Dengan metode full costing yang mencakup biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik sebesar Rp1.209.250, biaya produksi dihitung sebesar Rp4.030 per potong, Rp1.209.000 per produksi, dan Rp544.050.000 pada November 2024. Pemilik menetapkan harga jual sebesar Rp500 per potong dan Rp150.000 per talang, sedangkan metode cost-plus pricing dengan margin laba 20% (Rp806) menghasilkan harga jual sebesar Rp4.836 per potong, Rp1.450.800 per produksi, dan Rp652.860.000 per bulan dengan laba sebesar Rp108.810.000. Faktor pendukung utama adalah kualitas bahan baku yang tinggi, sedangkan faktor penghambatnya adalah keterbatasan pengetahuan mengenai komponen biaya, yang menyebabkan ketidakakuratan dalam menentukan biaya produksi.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perhitungan biaya produksi yang diterapkan pemilik usaha belum mencerminkan biaya sebenarnya karena tidak memasukkan seluruh komponen biaya, khususnya biaya overhead pabrik.Penerapan metode full costing terbukti menghasilkan perhitungan biaya produksi yang lebih akurat karena semua elemen biaya dipertimbangkan secara lengkap.Selain itu, penggunaan metode cost-plus pricing dalam penentuan harga jual menunjukkan bahwa harga yang ditetapkan berdasarkan biaya produksi yang benar dapat memberikan margin laba yang jelas dan rasional untuk keberlanjutan usaha.

Pertama, perlu dilakukan penelitian mengenai penerapan metode alokasi biaya overhead yang lebih detail, seperti activity-based costing, pada usaha mikro tahu untuk mengevaluasi akurasi biaya produksi dibandingkan metode full costing. Kedua, penting untuk mengeksplorasi bagaimana pelatihan literasi keuangan berbasis komunitas dapat meningkatkan pemahaman pelaku usaha mikro tentang struktur biaya dan pengaruhnya terhadap penetapan harga jual yang berkelanjutan. Ketiga, perlu dikaji dampak fluktuasi harga kedelai terhadap strategi penetapan harga dinamis dengan menggunakan model simulasi biaya dan sensitivitas harga terhadap volume penjualan, agar usaha mikro seperti Bang Halim dapat lebih responsif terhadap perubahan pasar. Ketiga arah penelitian ini dapat mengisi celah praktik akuntansi biaya yang sederhana dengan pendekatan yang lebih sistematis dan adaptif terhadap kondisi ekonomi mikro. Studi lebih lanjut perlu melibatkan lebih banyak sampel usaha mikro untuk menguji generalisasi temuan dan mengembangkan model penentuan harga yang praktis namun akurat. Dengan demikian, hasil penelitian dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan pendampingan usaha mikro di tingkat lokal. Fokus pada sisi edukatif dan adaptif sangat penting agar pelaku usaha mampu mengelola biaya dan harga secara mandiri. Penelitian lanjutan juga bisa mengevaluasi efektivitas aplikasi digital sederhana untuk pencatatan biaya produksi harian. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan pada ingatan dan perhitungan manual yang rentan kesalahan. Integrasi teknologi kecil dapat menjadi terobosan dalam meningkatkan akuntabilitas usaha mikro. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan metode akuntansi, pelatihan, dan teknologi sederhana, usaha mikro dapat lebih tangguh secara finansial.

Read online
File size347.69 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test