UAIUAI

Jurnal Anak Usia Dini Holistik Integratif (AUDHI)Jurnal Anak Usia Dini Holistik Integratif (AUDHI)

Tari Bedug Warnane merupakan tarian kesenian daerah Banten yang bertema dengan iringan musik ceria dengan nada unsur bermain bedug yang dipukul sesuai dengan tempo dan irama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pembelajaran tari Bedug Warnane di sanggar tari Raksa Budaya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi model, strategi, sarana prasarana, media dan lingkungan serta faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pembelajaran tari Bedug Warnane di Sanggar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisa data menggunakan model Milles dan Hubberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran tari untuk anak usia 3-6 tahun dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap perencanaan berupa menyiapkan rencana pembelajaran yang merujuk pada silabus, menyiapkan sarana dan media pembelajaran dilakukan oleh para pengurus di sanggar. Tahap pelaksanaan berupa pembelajaran materi tari Bedug Warnane dengan menggunakan metode demonstrasi, imitative serta praktik. Tahap evaluasi yaitu kegiatan yang dilakukan setiap akhir pembelajaran. Kegiatan evaluasi juga dilakukan melalui pertunjukan tari dengan menampilkan tarian Bedug Warnane yang sekaligus untuk mengetahui pencapaian pembelajaran. Adapun hambatan yang dialami yaitu anak sulit fokus pada saat pembelajaran berlangsung. Solusi yang dilakukan pelatih adalah dengan cara membangkitkan semangat anak dalam belajar menari. Kesimpulannya Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya Kota Serang telah melaksanakan pembelajaran tari dengan sistematis yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi dengan merujuk pada silabus yang ada.

Pembelajaran tari Bedug Warnane pada anak usia 3-6 tahun di Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya dilaksanakan secara sistematis melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang merujuk pada silabus.Proses pembelajaran menggunakan metode demonstrasi, imitasi, dan praktik dengan pendekatan interaktif yang melibatkan pemanasan, pelatihan gerakan, serta penggunaan media musik.Evaluasi dilakukan melalui pertunjukan resital tari setiap akhir tahun dan penilaian tidak langsung selama pertemuan, sementara hambatan utama berupa sulitnya anak fokus diatasi dengan peningkatan motivasi dan semangat belajar anak terhadap seni tradisional.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh frekuensi dan durasi pembelajaran tari Bedug Warnane terhadap perkembangan motorik kasar anak usia 3-6 tahun, apakah pertemuan mingguan cukup efektif atau perlu ditambah. Kedua, perlu dikaji lebih dalam mengenai strategi pelatih dalam mengelola emosi anak yang sedang moody selama pembelajaran, termasuk teknik komunikasi dan pendekatan psikologis apa yang paling berhasil meningkatkan konsentrasi. Ketiga, penting untuk mengevaluasi efektivitas keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran tari di luar sanggar, misalnya melalui aktivitas rumah tangga berbasis gerakan tari, agar stimulasi seni dan motorik berkelanjutan di lingkungan keluarga. Penelitian lanjutan sebaiknya menguji kombinasi antara pendekatan pelatih, dukungan orang tua, dan intensitas latihan untuk melihat dampak holistik pada minat, kemandirian, dan perkembangan seni anak. Selain itu, perlu dikembangkan instrumen evaluasi yang lebih spesifik untuk mengukur capaian perkembangan anak dalam aspek sosial-emosional dan kognitif melalui tari, bukan hanya aspek teknis menari. Studi juga bisa mengeksplorasi perbandingan antara metode imitasi langsung dengan metode pembelajaran berbasis permainan digital yang mengandung gerakan tari serupa. Inovasi pembelajaran dapat dikaji apakah integrasi teknologi atau media visual meningkatkan daya ingat dan konsentrasi anak dalam belajar tari tradisional. Penelitian selanjutnya bisa mengamati apakah variasi properti tari seperti bedug, rebana, dan penakol berdampak berbeda terhadap stimulasi motorik halus dan kasar. Selain itu, perlu dikaji apakah model pembelajaran di sanggar dapat diadaptasi ke lingkungan PAUD formal dengan keterbatasan ruang dan waktu. Semua saran ini bertujuan memperkuat efektivitas dan keterjangkauan pembelajaran seni tradisional bagi anak usia dini di berbagai konteks pendidikan.

Read online
File size416.05 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test