MACHUNGMACHUNG

Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan IntermediaCitradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia

Penggunaan sensasi sebagai media dalam mendongkrak popularitas bukanlah hal baru dalam dunia hiburan, seperti yang dilakukan oleh Mimi peri, salah satu selebgram di media sosial Instagram. Popularitas yang didapatkan kemudian dimanfaatkannya sebagai ladang mata pencaharian dalam mencari pundi-pundi rupiah, dengan menampilkan karakter wanita centil namun berparas pria dan menambahkan konten drama yang dibuat berdasarkan imajinasinya sebagai bidadari dari kahyangan. Dengan menggunakan teori retorika visual dari Burke yang terbagi dari 3 unsur yakni pathos, logos, dan ethos, akan terlihat makna tanda-tanda dan tujuan dari visual yang ditampilkan pada akun Instagram Mimi peri. Dan teori dramatisme digunakan sebagai teori pendukung agar dapat menganalisa karakter Mimi peri secara lebih mendalam. Di dunia nyata, kaum queer seringkali mengalami penolakan dan dibully di masyarakat, begitu juga yang terjadi pada Mimi Peri yang mendapatkan apresiasi sekaligus hujatan yang luar biasa dari netizen, namun hujatan yang diterima justru membuat popularitasnnya semakin naik. Karena semakin banyak yang menghujatnya maka semakin sering pula ia diperbincangkan. Dengan menampilkan konten meme perpaduan trend pada masanya yang ditampilkan secara jenaka, sehingga mampu diterima oleh pengguna sosial media dan juga mampu menginspirasi kaum queer lainnya. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya selebgram dari kaum queer yang gemar menggunakan meme di media digital seperti Lucinta Luna dan Stasya Bwarlele. Maka dari itu, kajian ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana Mimi Peri menampilkan personal branding dirinya dengan segala dramanya yang sengaja dimunculkan untuk mencapai popularitas dan menjadikannya sebagai komoditas dalam sosial media, secara mendalam dalam ranah retorika visual.

Mimi Peri tahu betul bagaimana mendapatkan dan meningkatkan popularitasnya dengan menjadikannya sebagai meme dan menambahkan dramatisasi.Dengan menggambarkan dirinya sebagai bidadari dari kahyangan namun tampilannya berbanding terbalik dengan definisi bidadari yang diterima masyarakat, menimbulkan kontroversi.Mimi Peri juga tahu siapa target audiensnya, yaitu base fans artis Korea, sehingga ia membuat konten yang berkaitan dengan mereka.Meskipun banyak hujatan yang diterimanya, ia tahu hal tersebutlah yang membuatnya populer dan memanfaatkannya sebagai sarana mencari penghasilan.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi lebih dalam bagaimana strategi personal branding Mimi Peri memengaruhi persepsi masyarakat terhadap identitas gender dan ekspresi diri di media sosial. Selain itu, studi komparatif dapat dilakukan dengan selebgram queer lainnya untuk mengidentifikasi pola dan perbedaan dalam penggunaan meme dan dramatisasi sebagai alat untuk membangun popularitas dan komodifikasi diri. Terakhir, penelitian dapat berfokus pada dampak ekonomi dari fenomena ini, menganalisis bagaimana selebgram seperti Mimi Peri mengubah lanskap industri hiburan dan pemasaran digital, serta bagaimana hal ini memengaruhi peluang ekonomi bagi komunitas queer. Penelitian-penelitian ini penting untuk memahami dinamika kompleks antara identitas, representasi, dan komodifikasi di era digital, serta implikasinya bagi masyarakat dan industri kreatif.

  1. ANALISIS RETORIKA VISUAL PADA KONTEN YOUTUBE KANAL SKINNYINDONESIAN24 DENGAN JUDUL "YOUTUBE LEBIH... doi.org/10.21831/socia.v18i1.40433ANALISIS RETORIKA VISUAL PADA KONTEN YOUTUBE KANAL SKINNYINDONESIAN24 DENGAN JUDUL YOUTUBE LEBIH doi 10 21831 socia v18i1 40433
Read online
File size260.58 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test