Tel-UTel-U

JURNAL RUPAJURNAL RUPA

Perempuan urban dan perhiasan dapat dipandang sebagai entitas yang tidak terpisahkan. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, penelitian ini mewawancarai tiga perempuan urban sebagai informan untuk membangun pemaknaan yang mengaitkan kepemilikan perhiasan, budaya urban sebagaimana dijelaskan oleh Keith (2003), serta hibriditas budaya menurut perspektif Tuncer (2023). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan urban di Jakarta menjalankan praktik budaya melalui aktivitas yang berkaitan dengan kolektivitas, penyampaian pesan, konektivitas, serta pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial, sekaligus menjadi bagian integral dari budaya urban dengan aktivitas yang menekankan pada mode dan norma sosial. Selain itu, perempuan urban di Jakarta memperlihatkan adanya hibriditas sosial melalui interaksi antarbudaya yang melahirkan gagasan-gagasan inovatif dalam pembuatan perhiasan. Interaksi antarbudaya tersebut mencakup berbagai upaya, antara lain pelestarian warisan budaya, penyampaian pesan melalui ekspresi, keberlanjutan dalam komunitas, perhiasan sebagai sarana penyembuhan psikologis, serta aspirasi untuk menjadikan produk perhiasan yang mereka rancang sebagai sumber inspirasi bagi banyak orang.

Perempuan urban di Jakarta menjalankan praktik kebudayaan melalui aktivitas yang menekankan kolektivitas, penyampaian pesan, keterhubungan, dan pola sosial yang dapat direplikasi, sehingga menjadi bagian dari budaya urban yang fokus pada mode dan norma sosial.Mereka juga menunjukkan hibriditas sosial melalui interaksi antarbudaya yang menghasilkan gagasan inovatif dalam pembuatan perhiasan.Perhiasan bagi mereka berfungsi sebagai media untuk mengawetkan memori, menyatakan sikap, mempertahankan eksistensi, sarana penyembuhan psikologis, dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Penelitian lanjutan dapat menggali bagaimana perempuan urban dari kelas sosial yang berbeda memaknai perhiasan dalam konteks ekonomi dan budaya yang tidak setara, untuk memahami apakah makna kolektivitas dan identitas melalui perhiasan berbeda menurut lapisan sosial. Selain itu, perlu diteliti bagaimana generasi muda perempuan urban mempraktikkan hibriditas budaya melalui perhiasan yang terinspirasi dari media digital dan tren global, guna melihat evolusi identitas budaya urban di era digital. Penelitian juga bisa mengeksplorasi dampak psikologis jangka panjang dari penggunaan perhiasan sebagai coping mechanism, khususnya dalam komunitas urban yang menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi tinggi, untuk menilai peran objek material dalam kesejahteraan mental perempuan.

  1. Documentary analysis as a qualitative methodology to explore disaster mental health: insights from analysing... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1468794114567494Documentary analysis as a qualitative methodology to explore disaster mental health insights from analysing journals sagepub doi 10 1177 1468794114567494
  2. Narsisme Perempuan Urban melalui Simulakra Perhiasan di Media Sosial sebagai Bentuk Endorsement | Widiyanti... doi.org/10.24821/ars.v25i2.5553Narsisme Perempuan Urban melalui Simulakra Perhiasan di Media Sosial sebagai Bentuk Endorsement Widiyanti doi 10 24821 ars v25i2 5553
Read online
File size551.84 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test