JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Umumnya, ibu yang akan bersalin akan merasakan perasaan cemas dan takut. Rasa takut dan cemas akan sangat buruk akibatnya dalam proses persalinan. Ibu yang sedang bersalin mengalami tingkat kecemasan yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi lavender dan aromaterapi mawar terhadap tingkat kecemasan ibu bersalin di Wilayah Kerja Puskesmas Walantaka. Data di analisis menggunakan uji t test untuk mengetahui perbedaan efektivitas aromaterapi mawar dan lavender terhadap kecemasan pada ibu bersalin. Pengambilan data sampel dibagi dua, yaitu sampel 10 kelompok ibu bersalin dengan terapi lavender dan 10 kelompok ibu bersalin dengan terapi mawar. Instrumen penelitian terdiri dari lembar observasi pemberian aromaterapi di wilayah kerja puskesmas Walantaka Serang tahun 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender (p<0,05) dan ada pengaruh sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi mawar (p<0,05). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara aromaterapi lavender dan mawar terhadap kecemasan ibu bersalin (p>0,05). Bidan penolong persalinan bisa menggunakan aromaterapi mawar untuk menurunkan tingkat kecemasan terhadap ibu bersalin.

Terdapat pengaruh signifikan antara pemberian aromaterapi lavender dan penurunan kecemasan pada ibu bersalin dengan nilai p=0,037.Terdapat pengaruh signifikan antara pemberian aromaterapi mawar dan penurunan kecemasan pada ibu bersalin dengan nilai p=0,001.Tidak terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas aromaterapi lavender dan mawar dalam mengurangi kecemasan ibu bersalin dengan nilai p=0,673.

Pertama, perlu diteliti efektivitas kombinasi aromaterapi lavender dan mawar secara bersamaan terhadap penurunan kecemasan ibu bersalin, apakah efeknya lebih optimal dibandingkan penggunaan satu jenis saja. Kedua, penting untuk mengeksplorasi pengaruh durasi dan frekuensi penggunaan aromaterapi terhadap respons fisiologis dan psikologis ibu selama persalinan, agar diperoleh pola pemberian yang paling efektif. Ketiga, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menguji pengaruh aromaterapi ini pada kelompok ibu dengan kondisi berbeda seperti primipara dan multipara, untuk mengetahui apakah tingkat kecemasan dan respon terhadap terapi berbeda berdasarkan pengalaman melahirkan sebelumnya. Studi semacam ini dapat membantu merancang intervensi yang lebih personal dan sesuai kebutuhan. Selain itu, penting juga untuk menguji jenis metode pemberian aromaterapi yang paling efisien, seperti inhalasi, diffuser, atau pijat aromatik, agar penerapannya lebih praktis di fasilitas kesehatan. Penelitian yang lebih luas dengan jumlah sampel lebih besar dan di berbagai wilayah juga diperlukan untuk memastikan hasil yang lebih representatif. Kombinasi aromaterapi dengan teknik relaksasi lain seperti musik atau pernapasan terpandu juga layak diteliti sebagai terapi komplementer. Dengan memahami faktor-faktor ini, bidan dapat memberikan pendampingan yang lebih holistik dan berbasis bukti. Hasil penelitian lanjutan dapat menjadi dasar pedoman penerapan aromaterapi dalam asuhan persalinan di puskesmas. Studi longitudinal juga dapat dilakukan untuk melihat dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan mental ibu setelah melahirkan.

Read online
File size307.33 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test