UNISMUH PALUUNISMUH PALU

Journal of Public Health and PharmacyJournal of Public Health and Pharmacy

Diabetes melitus merupakan epidemi global yang terus meningkat, termasuk di Indonesia, serta berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Peran apoteker dalam memberikan asuhan kefarmasian bagi pasien diabetes di puskesmas sangat penting, namun tantangan dalam pelaksanaannya masih ada. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman apoteker dalam melaksanakan asuhan kefarmasian bagi pasien diabetes di puskesmas di Indonesia. Penelitian potong lintang ini dilakukan di puskesmas di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Apoteker yang bekerja di puskesmas direkrut antara Oktober dan Desember 2023. Survei dibagikan dalam format cetak dan daring (Google Form). Kuesioner yang digunakan difokuskan pada pemberian parameter penilaian, rencana perawatan, dan tindak lanjut terkait pengobatan pasien diabetes. Tingkat respons sebesar 60,3% (n=143) diperoleh dari apoteker yang terlibat dalam survei. Mengenai parameter penilaian, indikator penilaian kepercayaan pasien merupakan yang paling dominan dilaksanakan oleh apoteker (93,7%) dibandingkan indikator lainnya. Dalam aspek rencana perawatan, pemberian informasi mengenai indikasi obat merupakan indikator yang paling dominan dilaksanakan (82,9%). Sementara itu, untuk parameter tindak lanjut, indikator tindak lanjut kepatuhan obat merupakan yang paling dominan dilaksanakan oleh apoteker (79,1%). Analisis faktor mengungkapkan bahwa penilaian, rencana perawatan, dan evaluasi tindak lanjut masing-masing membentuk satu komposit.

Asuhan kefarmasian yang diberikan oleh apoteker di puskesmas untuk pasien diabetes masih belum optimal.Faktor-faktor yang menyebabkan implementasi asuhan kefarmasian yang suboptimal meliputi keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan khusus bagi apoteker, serta dukungan yang tidak memadai dari sistem pelayanan kesehatan.Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan memengaruhi kualitas pelayanan kefarmasian bagi pasien diabetes di tingkat puskesmas.

Pertama, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi secara mendalam hambatan struktural dan sistemik yang dialami apoteker di puskesmas, seperti beban kerja, waktu terbatas, dan kurangnya dukungan manajemen, agar dapat dirancang intervensi sistemik yang tepat. Kedua, diperlukan studi tentang efektivitas pelatihan berbasis kompetensi bagi apoteker dalam memberikan asuhan kefarmasian secara menyeluruh, termasuk penilaian, perencanaan, dan tindak lanjut, dengan metode pembelajaran yang sesuai konteks pelayanan primer di daerah. Ketiga, perlu dikembangkan dan diuji coba model kolaboratif antara apoteker, dokter, dan tenaga kesehatan lain di puskesmas dalam pengelolaan diabetes, untuk mengevaluasi dampaknya terhadap kepatuhan pengobatan, kontrol gula darah, dan kualitas hidup pasien secara berkelanjutan. Penelitian-penelitian ini penting untuk memperkuat peran apoteker dalam sistem kesehatan primer dan memperbaiki outcome terapi pasien diabetes di Indonesia. Melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi, pelayanan kefarmasian di puskesmas dapat menjadi pilar utama dalam pengendalian diabetes. Fokus pada konteks lokal dan keterlibatan langsung para pemangku kepentingan akan meningkatkan relevansi dan keberlanjutan temuan penelitian. Model yang berhasil dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Dengan demikian, peningkatan kualitas asuhan kefarmasian tidak hanya menjadi tanggung jawab individu apoteker, tetapi juga bagian dari transformasi sistem pelayanan kesehatan primer.

Read online
File size390.28 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test