IAIHPANCORIAIHPANCOR

AFADA: Jurnal Pengabdian Pada MasyarakatAFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cerita rakyat Sejarah Weni Kalla di Desa Tude (Puntaru), Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis untuk menggali dan merekonstruksi sejarah Weni Kalla. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Bapak Mahlale Lama Koly. Hasil wawancara menunjukkan terjadinya pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengaku sebagai putri raja dan ingin menjadi permaisuri Raja Mai Wallang. Pertengkaran diakhiri dengan perang tanding, di mana Bunanema yang menggunakan alat tenun kain mampu membelah Kallang Buri beserta moko yang didudukinya. Bunanema kemudian menikah dengan Raja Mai Wallang dan dikaruniai seorang putra bernama Weni Kalla. Suatu hari, Weni Kalla memanah seekor belalang yang mencaci maki orang tuanya di atas kuburan Kallang Buri. Setelah dilaporkan, ibunya Bunanema mematahkan busur Weni Kalla karena marah, lalu menawarkan botok yang diterima oleh Weni Kalla. Saat Bunanema menumbuk botok, terjadi banjir besar yang menenggelamkan Kerajaan Kaila Wallang. Bunanema berubah menjadi batu di dasar laut Puntaru, sementara botok yang ditumbuk berubah menjadi pasir tiga warna yang kini terdapat di Pantar Barat Puntara.

Sejarah Weni Kalla berawal dari kerajaan Kaila Wallang di Puntaru yang dipimpin oleh Raja Mai Wallang, yang menikahi Bunanema dari Kerajaan Sambawa, namun terjadi konflik dengan dayangnya Kallang Buri yang juga mengaku sebagai putri raja.Konflik berakhir dengan perang tanding di mana Bunanema keluar sebagai pemenang, sehingga ia menjadi permaisuri dan melahirkan Weni Kalla.Peristiwa kemudian berlanjut ketika Weni Kalla memanah belalang penghina di kuburan Kallang Buri, yang memicu banjir besar menenggelamkan kerajaan, mengubah Bunanema menjadi batu, dan botok yang ditumbuk menjadi pasir tiga warna sebagai bukti sejarah mistis yang masih ada hingga kini.

Pertama, perlu diteliti bagaimana transmisi lisan cerita Weni Kalla dari generasi ke generasi memengaruhi bentuk dan isi narasi seiring waktu, serta faktor-faktor apa saja yang menyebabkan variasi cerita di kalangan masyarakat Desa Tude. Kedua, sebaiknya dilakukan penelitian tentang makna simbolis dari pasir tiga warna dan kaitannya dengan sistem kepercayaan, kosmologi lokal, serta peran alam dalam membangun identitas budaya masyarakat Pantar Tengah. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi potensi cerita Weni Kalla sebagai fondasi pengembangan pariwisata budaya berbasis komunitas, dengan mengkaji bagaimana narasi lokal dapat diintegrasikan ke dalam model ekowisata yang berkelanjutan tanpa kehilangan nilai sakral dan historisnya, serta bagaimana masyarakat lokal dapat menjadi penjaga utama sekaligus aktor utama dalam pengelolaan destinasi tersebut.

Read online
File size725.76 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test