UNIBAUNIBA

Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas BatamZona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam

Latar Belakang: Tidaklah sedikit fenomena mayat terlantar tanpa diketahui lama waktu kematian, untuk mengungkapkan misteri mayat terlantar, maka dibutuhkan identifikasi agar dapat mengetahui post-mortem interval (PMI). Dengan bantuan entomologi forensik sebagai penyidik dan lalat jenis Chrysomya Megacephala sebagai hewan yang pertama kali hinggap pada mayat. Cepat atau lambatnya pertumbuhan lalat dipengaruhi oleh suhu sebagai faktor utamanya, maka dengan meneliti pertumbuhan lalat dengan suhu yang berbeda-beda dapat menghitung lama waktu kematian mayat. Metode: Metode Penelitian ini merupakan penelitian true exsperimental design di Laboratorium menggunakan rancangan “Posttest Only Control Group Design, Hewan ujipada penelitian ini adalah 18 ekortikus (Rattus norvegicus) yang di dislokasi leher dan diberi 1cm sayatan pada abdomen. perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok suhu yaitu suhu 160C, 270C dan 390C dengan menggunakan inkubator yang masing-masing diletakan 10 ekor lalat Chrysomya Megacephala. Dan dilihat selama 5 hari berturut-turut pada pagi dan sore hari. Uji analisis yang digunakan adalah uji Mann Whitney. Hasil: Hasil yang didapatkan saat di uji menggunakan uji Mann Whitney didapatkan (p value = 0,010) yang berarti adanya perbedaan yang bermakna antara suhu 160C dengan 390C. Sedangkan pada suhu 270C dengan suhu 160C dan 390C (p value = 0,000) yang berarti adanya perbedaan yang tidak bermakna antara perlakuan suhu 270C dengan suhu 160C dan 390C. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan adanya perbedaan pertumbuhan larva lalat Chrysomya Megacephala pada suhu yang berbeda-beda.

Terdapat pengaruh perbedaan suhu terhadap pertumbuhan larva lalat Chrysomya Megacephala pada bangkai Tikus Wistar (Rattus norvegicus).Diketahui adanya perbedaan bermakna antara suhu 160C dengan suhu 390C.Sedangkan pada suhu 270C dengan suhu 160C dan 390C ada perbedaan namun tidak bermakna.Didapatkan adanya perbedaan pertumbuh kembangan Chrysomya Megacephala pada masing-perlakuan yaitu untuk suhu 160C dibutuhkan 0-48 jam untuk menjadi larva.pada suhu 270C dibutuhkan 0-30 jam dari awal hingga adanya larva, sedangkan pada suhu 390C hanya dibutuhkan 24 jam hingga adanya larva.Diketahui adanya pengaruh pertumbuhan larva lalat dengan lama kematian, semakin panjang ukuran larva lalat maka semakin lama hari kematian.Dan pertumbuhan larva menyesuaikan pada suhu sekitar, lebih cepat terjadi pada suhu 390C dan cenderung lambat pada suhu 160C.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dipertimbangkan beberapa saran berikut: Pertama, memilih faktor lain sebagai variabel penelitian, seperti kelembaban, cahaya, atau faktor lingkungan lainnya. Kedua, membandingkan kondisi kematian yang berbeda, seperti kematian akibat racun, bekap, atau sayatan, untuk melihat pengaruhnya terhadap pertumbuhan larva lalat. Ketiga, melakukan penelitian dengan jangka waktu yang lebih lama agar dapat mengamati siklus hidup penuh lalat hingga menjadi dewasa. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam memahami hubungan antara suhu, kondisi kematian, dan pertumbuhan larva lalat Chrysomya Megacephala.

Read online
File size438.88 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test