UNIBAUNIBA

Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas BatamZona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam

Kelelahan kerja merupakan kondisi tubuh mengalami kehabisan energi karena perpanjangan kerja yang dilakukan. Kelelahan kerja meningkatkan kesalahan kerja dan menurunkan kinerja. Berkurangnya kinerja sama dengan berkurangnya produktivitas dalam bekerja. Ketika tingkat produktivitas pekerja terganggu oleh kelelahan fisik dan mental, maka akibatnya berkurangnya produktivitas perusahaan. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pekerja bagian produksi PA (Casting) di Alumunium Manufacturing Kota Batam berjumlah 40 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Uji analisis yang digunakan adalah uji Chi-Square. Berdasarkan hasil uji Chi-Square pada intensitas kerja dengan kelelahan kerja diketahui terdapat nilai signifikan yaitu sebesar 0,001 (<0,05), yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara intensitas kerja dengan kelelahan kerja. Kemudian pada circadian rhythm dengan kelelahan kerja p-value sebesar 0,001 (<0,05), yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara circadian rhythm dengan kelelahan kerja. Dan pada keadaan psikologi dengan kelelahan kerja p-value sebesar 0,001 (<0,05), yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara keadaan psikologi dengan kelelahan kerja. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah intensitas kerja dengan p-value (0,000) dan nilai coefficients beta (0,511).

Terdapat pengaruh signifikan antara intensitas kerja, circadian rhythm, dan keadaan psikologi terhadap kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi di Alumunium Manufacturing Indonesia, Kota Batam.Berdasarkan hasil uji multivariat, faktor yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja adalah intensitas kerja.Sebagian besar pekerja mengalami kelelahan kerja pada kategori tinggi sekali, yang diduga kuat terkait dengan durasi kerja panjang, gangguan ritme sirkadian, dan tekanan psikologis.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana penerapan sistem kerja bergilir yang lebih fleksibel memengaruhi ritme sirkadian dan tingkat kelelahan kerja, dengan membandingkan jadwal shift pagi-siang-malam yang teratur versus yang sering berubah-ubah. Kedua, penting untuk meneliti efektivitas program intervensi psikologis berbasis konseling rutin atau pelatihan manajemen stres dalam mengurangi kelelahan kerja, terutama pada pekerja dengan beban psikologis tinggi, untuk melihat apakah pendekatan ini bisa menurunkan intensitas gejala kelelahan. Ketiga, perlu dikaji lebih lanjut bagaimana desain ergonomis tempat kerja, seperti penataan alat dan istirahat mikro selama shift, dapat mengurangi dampak intensitas kerja tinggi terhadap kelelahan fisik, terutama pada pekerja dengan jam lembur reguler, agar dapat dirancang pedoman pencegahan yang lebih menyeluruh.

Read online
File size313.36 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test