UMLUML

Psyche: Jurnal PsikologiPsyche: Jurnal Psikologi

Pada era waktu kerja fleksibel, mahasiswa memiliki kebebasan untuk memilih ruang kerja yang sesuai dengan preferensi masing-masing seperti mengerjakan di perpustakaan, communal space, atau di ruang belajar informal lainnya. Namun, ruang kerja yang tidak ideal dapat mengganggu performa dari individu. Pemilihan ruang kerja didasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan khusus seperti faktor personal dan kepribadian. Tujuan penelitian yakni untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor personal (usia dan uang saku) dan kepribadian dengan preferensi ruang kerja pada mahasiswa. Subjek penelitian sebanyak 226 orang mahasiswa yang diambil dengan sampling accidental. Kepribadian diukur menggunakan Neuroticism-Extraversion-Openness Five Factor Inventory (NEO-FFI). Data penelitian dianalisis menggunakan analisis chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa diantara faktor personal lain seperti usia dan kepribadian, hanya uang saku mahasiswa yang memiliki hubungan dengan preferensi ruang kerja. Temuan penelitian ini menegaskan urgensi bagi pihak terkait untuk mempertimbangkan faktor ekonomi mahasiswa dalam menyediakan berbagai pilihan ruang kerja atau ruang belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan keterjangkauan mahasiswa.

Hanya uang saku yang memiliki hubungan signifikan dengan preferensi ruang kerja mahasiswa, sedangkan usia dan kepribadian tidak berpengaruh.Mayoritas mahasiswa cenderung memilih ruang kerja pribadi seperti rumah, kamar kos, atau apartemen untuk mengerjakan tugas.Temuan ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi sangat memengaruhi keputusan mahasiswa dalam memilih tempat kerja, sehingga perlu dipertimbangkan dalam penyediaan fasilitas belajar.

Pertama, perlu diteliti bagaimana kualitas lingkungan fisik seperti pencahayaan, kebisingan, dan kenyamanan termal memengaruhi preferensi ruang kerja mahasiswa dengan latar belakang ekonomi berbeda. Kedua, sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan yang membandingkan preferensi ruang kerja antara mahasiswa dengan pekerja muda seperti freelancer atau remote worker yang memiliki penghasilan tetap, untuk melihat pengaruh status ekonomi dan usia secara lebih luas. Ketiga, penelitian selanjutnya dapat menggali preferensi berdasarkan jenis tugas akademik, seperti tugas kelompok, belajar mandiri, atau kreativitas, untuk mengetahui apakah ada kebutuhan spesifik ruang yang sesuai dengan aktivitas akademik tertentu. Dengan memahami aspek-aspek ini, kampus dan penyedia ruang kerja bisa merancang fasilitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan nyata pengguna. Pendekatan ini juga bisa mengungkap apakah mahasiswa dari latar belakang ekonomi rendah menghadapi hambatan struktural dalam mengakses ruang kerja ideal. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi faktor psikologis lain seperti self-regulation atau stres akademik yang mungkin memengaruhi pilihan tempat kerja. Penelitian yang lebih mendalam tentang preferensi situasional berdasarkan konteks aktivitas bisa menghasilkan model pemetaan ruang belajar yang lebih presisi. Idealnya, studi lanjutan menggunakan metode kualitatif dan observasional untuk menangkap nuansa perilaku yang tidak terungkap dalam survei. Dengan pendekatan campuran, hasilnya bisa lebih komprehensif dan aplikatif. Temuan semacam itu sangat berguna bagi pengambil kebijakan kampus dalam mengalokasikan sumber daya secara adil dan efektif.

  1. EKSPLORASI PREFERENSI RUANG KERJA DITINJAU DARI FAKTOR PERSONAL DAN KEPRIBADIAN MAHASISWA | Husna | Psyche:... doi.org/10.36269/psyche.v7i1.2996EKSPLORASI PREFERENSI RUANG KERJA DITINJAU DARI FAKTOR PERSONAL DAN KEPRIBADIAN MAHASISWA Husna Psyche doi 10 36269 psyche v7i1 2996
Read online
File size375.56 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test