POLTEKKES PALUPOLTEKKES PALU

Jurnal Bidan CerdasJurnal Bidan Cerdas

Remaja merupakan kelompok demografis yang rentan terhadap penyebaran epidemi HIV/AIDS. Pada tahun 2020 terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS, terutama pada kelompok usia 20-29 tahun. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu difokuskan pada kelompok di bawah usia 20 tahun, khususnya remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak konseling kesehatan terhadap pengetahuan remaja mengenai HIV/AIDS. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pra-eksperimental dengan desain one-group pre-test dan post-test. Sampel terdiri dari 90 responden yang dipilih melalui simple random sampling. Penelitian ini menilai tingkat pengetahuan rata-rata remaja sebelum dan sesudah konseling, menggunakan analisis statistik. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan remaja sebelum konseling adalah 1,49, sedangkan setelah konseling meningkat menjadi 1,94. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p < 0,001 yang signifikan. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa konseling kesehatan memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Hal ini menegaskan pentingnya implementasi intervensi kesehatan dan program pendidikan yang ditargetkan untuk meningkatkan kesadaran dan tingkat pengetahuan di kalangan remaja, berkontribusi pada pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS pada populasi yang rentan.

Konseling kesehatan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap pengetahuan remaja mengenai HIV/AIDS.Intervensi pendidikan seperti konseling efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja tentang penyebab, penularan, dan pencegahan HIV/AIDS.Penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi manfaat konseling lebih lanjut serta pendekatan lain untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap HIV/AIDS.

Pertama, perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi efektivitas media konseling digital, seperti aplikasi mobile atau platform daring interaktif, dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dibandingkan metode konvensional. Kedua, penting untuk meneliti pengaruh frekuensi dan durasi konseling terhadap retensi pengetahuan jangka panjang, apakah sesi konseling satu kali cukup atau diperlukan pendekatan berkelanjutan. Ketiga, perlu dikaji bagaimana integrasi konseling HIV/AIDS ke dalam kurikulum sekolah secara sistematis memengaruhi sikap dan perilaku remaja, bukan hanya pengetahuan semata, serta bagaimana faktor lingkungan sekolah dan keluarga memodulasi efektivitas intervensi tersebut. Penelitian lanjutan sebaiknya juga membandingkan efektivitas konseling berbasis teman sebaya dengan konseling oleh tenaga kesehatan terlatih. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi hambatan psikologis atau sosial yang membuat sebagian remaja tetap memiliki pengetahuan rendah meski telah diberi konseling. Studi juga dapat mengembangkan model konseling yang disesuaikan dengan tingkat usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan remaja. Pendekatan kuantitatif dan kualitatif gabungan dapat memberikan gambaran utuh tentang dinamika penerimaan informasi. Akhirnya, penelitian dapat menguji apakah peningkatan pengetahuan melalui konseling benar-benar diterjemahkan menjadi perubahan perilaku pencegahan risiko HIV/AIDS dalam kehidupan nyata remaja.

  1. Exploring Adolescent Pregnancy Expectations in Continuity of Midwifery Care: A Qualitative Study in Indonesia... jurnal.poltekkespalu.ac.id/index.php/JBC/article/view/2339Exploring Adolescent Pregnancy Expectations in Continuity of Midwifery Care A Qualitative Study in Indonesia jurnal poltekkespalu ac index php JBC article view 2339
Read online
File size295.77 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test