BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

International Journal of Social ScienceInternational Journal of Social Science

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model *whistleblowing* yang efektif bagi auditor internal pada inspektorat daerah di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengembangan model *whistleblowing* ini didasarkan pada Teori Perilaku Terencana (TPB), dengan pengaruh sosial berfungsi sebagai variabel moderasi. Pengaruh sosial diukur melalui dimensi konformitas, kepatuhan, dan ketaatan. Studi ini melibatkan 227 auditor dan Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah (P2UPD). Data dikumpulkan menggunakan Google Forms dan dianalisis menggunakan metode *Structural Equation Modeling-Partial Least Squares* (SEM-PLS) untuk menguji hubungan antarvariabel yang dihipotesiskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap perilaku memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat *whistleblowing*. Norma subjektif juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat *whistleblowing*, demikian pula kendali perilaku yang dirasakan. Niat *whistleblowing* memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku *whistleblowing*. Niat *whistleblowing* memediasi pengaruh sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kendali perilaku yang dirasakan terhadap perilaku *whistleblowing*. Dimensi konformitas, kepatuhan, dan ketaatan secara signifikan memanifestasikan konstruk pengaruh sosial. Pengaruh sosial memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap perilaku *whistleblowing*. Namun, pengaruh sosial tidak secara signifikan memoderasi pengaruh niat *whistleblowing* terhadap perilaku *whistleblowing*.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap, norma subjektif, dan kendali perilaku yang dirasakan secara positif dan signifikan memengaruhi niat *whistleblowing* auditor internal di inspektorat daerah Provinsi Bangka Belitung, yang pada gilirannya secara signifikan memengaruhi perilaku *whistleblowing* mereka.Niat *whistleblowing* juga berperan sebagai mediator antara ketiga faktor tersebut dengan perilaku *whistleblowing* itu sendiri.Lebih lanjut, pengaruh sosial, yang dimanifestasikan melalui konformitas, kepatuhan, dan ketaatan, memiliki efek langsung yang positif dan signifikan terhadap perilaku *whistleblowing*, meskipun tidak memoderasi hubungan antara niat dan perilaku *whistleblowing*.

Penelitian ini telah memberikan pemahaman yang berharga tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku *whistleblowing* auditor internal di inspektorat daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh sosial secara langsung berdampak pada perilaku *whistleblowing*, namun tidak memoderasi hubungan antara niat dan perilaku *whistleblowing*. Ini membuka jalan untuk penelitian lanjutan yang dapat lebih mendalami bagaimana pengaruh sosial bekerja secara spesifik. Misalnya, penelitian di masa depan dapat menyelidiki mekanisme lain yang mungkin menjelaskan mengapa pengaruh sosial tidak bertindak sebagai moderator dalam konteks ini, atau apakah ada dimensi pengaruh sosial yang berbeda yang mungkin memiliki peran moderasi. Apakah aspek-aspek seperti tingkat kepercayaan terhadap sistem perlindungan *whistleblower*, atau budaya organisasi yang mendorong keberanian untuk melaporkan, bisa menjadi moderator yang lebih efektif antara niat dan tindakan nyata *whistleblowing*? Selain itu, mengingat penelitian ini terfokus pada auditor internal di satu wilayah provinsi, akan sangat bermanfaat untuk memperluas cakupan studi ke berbagai lembaga pemerintah atau bahkan sektor swasta di provinsi lain. Ini akan membantu untuk menguji apakah model *whistleblowing* yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat digeneralisasi dan berlaku secara universal, atau apakah ada faktor kontekstual unik yang memengaruhi dinamika *whistleblowing* di daerah atau jenis organisasi yang berbeda. Studi komparatif lintas wilayah atau sektor akan mengungkap nuansa penting yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang promosi praktik *whistleblowing* yang efektif. Akhirnya, perlu dipertimbangkan untuk mengkaji secara lebih mendalam faktor-faktor anteseden dari kendali perilaku yang dirasakan dan norma subjektif, guna mengidentifikasi strategi spesifik untuk memperkuat keyakinan auditor akan kemampuan mereka untuk melaporkan serta meningkatkan dukungan sosial yang mereka terima, sehingga niat *whistleblowing* dapat lebih mudah diwujudkan menjadi tindakan nyata.

  1. DEVELOPMENT OF AN INTERNAL AUDITORS' WHISTLEBLOWING MODEL AT REGIONAL INSPECTORATES ACROSS THE PROVINCE... doi.org/10.53625/ijss.v4i5.9510DEVELOPMENT OF AN INTERNAL AUDITORS WHISTLEBLOWING MODEL AT REGIONAL INSPECTORATES ACROSS THE PROVINCE doi 10 53625 ijss v4i5 9510
  2. Prevention of Accounting Fraud in the Village Government | Atlantis Press. prevention accounting fraud... atlantis-press.com/proceedings/ambec-20/125959048Prevention of Accounting Fraud in the Village Government Atlantis Press prevention accounting fraud atlantis press proceedings ambec 20 125959048
  3. Indonesian Management and Accounting Research. https library ipmi ac mbkm ilearn unand digilib unis akasia... e-journal.trisakti.ac.id/index.php/imar/article/view/13221Indonesian Management and Accounting Research https library ipmi ac mbkm ilearn unand digilib unis akasia e journal trisakti ac index php imar article view 13221
  4. Internal Control, Organizational Culture, and Quality of Information Accounting to Prevent Fraud: Case... doi.org/10.5430/ijfr.v11n4p316Internal Control Organizational Culture and Quality of Information Accounting to Prevent Fraud Case doi 10 5430 ijfr v11n4p316
Read online
File size357.13 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test