WESTSCIENCESWESTSCIENCES

Jurnal Pengabdian West ScienceJurnal Pengabdian West Science

Edukasi gizi dan pencegahan anemia bagi remaja tuli merupakan tantangan serius dalam konteks pengembangan kesehatan inklusif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi gizi dan kesadaran akan pentingnya pencegahan anemia di kalangan siswa tuli SLBN 1 Lombok Timur. Pengabdian dilakukan melalui pendekatan visual dan partisipatif, menggunakan media edukasi seperti permainan puzzle isi piringku dan Focus Group Discussion berbasis Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dalam program GLADI (Gerakan Luar Biasa dan Mandiri). Program dilaksanakan selama dua hari dengan rangkaian edukasi, mentoring, dan evaluasi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai makanan bergizi dan anemia, serta munculnya perilaku kritis terhadap kebiasaan makan yang tidak sehat. Kendala yang dihadapi meliputi pola makan ganda karbohidrat, persepsi makanan sehat sebagai makanan mahal, dan rendahnya konsumsi tablet tambah darah. Kegiatan ini menekankan pentingnya sinergi keluarga, guru, dan komunitas dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan sehat.

Pelaksanaan Aksi KITA di SLBN 1 Lombok Timur mengungkap tantangan dalam pola konsumsi, persepsi gizi, dan pelaksanaan program kesehatan pada siswa disabilitas tuli.Mayoritas siswa tidak sarapan dan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat tanpa variasi zat gizi, serta memandang makanan sehat sebagai sesuatu yang mahal.Konsumsi tablet tambah darah tidak rutin karena kurangnya edukasi, dan lingkungan asrama belum mendukung pemenuhan gizi seimbang.Perlu pendekatan edukasi gizi yang inklusif, partisipatif, dan melibatkan kolaborasi sekolah, keluarga, serta lingkungan untuk perubahan perilaku jangka panjang.

Pertama, perlu penelitian lanjutan tentang efektivitas modul edukasi gizi berbasis budaya lokal yang disesuaikan dengan kebiasaan makan dan ketersediaan pangan di lingkungan siswa tuli, untuk mengetahui sejauh mana pendekatan berbasis konteks lokal dapat meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku jangka panjang. Kedua, penting untuk mengkaji penerapan sistem pendampingan terstruktur oleh guru dan orang tua dalam konsumsi tablet tambah darah, guna mengevaluasi bagaimana pendampingan berkelanjutan dapat meningkatkan kepatuhan dan pemahaman siswa terhadap pencegahan anemia. Ketiga, perlu dikembangkan studi tentang integrasi kegiatan edukasi gizi ke dalam kurikulum sekolah secara reguler, termasuk pelatihan guru dan modifikasi menu asrama, untuk memastikan bahwa lingkungan sekolah secara menyeluruh mendukung penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari siswa disabilitas tuli. Ketiga pendekatan ini dapat menghasilkan model intervensi yang lebih holistik, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kebutuhan kelompok rentan secara inklusif.

Read online
File size387.76 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test