STIATA BALONGSTIATA BALONG

JAPBJAPB

UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian dan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Analisis Break Even Point (BEP) sering digunakan dalam perencanaan keuangan sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang diharapkan melalui penetuan harga jual persatuan, produksi minimal, pendesaian produk, dan lainnya. Tujuan penelitian ini yaitu Menganalisis bagaimana penerapan analisis Break Even Point (BEP) sebagai alat perencanaan laba pada UMKM Galeri PURUNIK Kecamatan Pugaan, untuk mengetahui bagaimana BEP dapat membantu pengelola usaha dalam merencanakan laba yang lebih efektif, serta untuk menganalisis perhitungan Margin Of Safety pada UMKM Galeri PURUNIK Kecamatan Pugaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, studi pustaka dan dokumentasi. Adapun data yang diambil pada penelitian ini adalah dari Bulan Januari sampai Bulan April 2025. Teknis analisis data pada penelitian ini dengan mengumpulkan data yang diperlukan, menghitung Break Even Point dan Margin Of Safety serta menganalisis laba yang diperoleh. Berdasarkan hasil analisis Break Even Point (BEP), diketahui bahwa titik impas UMKM Galeri PURUNIK untuk produk cermin rotan adalah sebesar 190 unit atau setara dengan Rp 19.000.000. Untuk produk Tikar Purun Timung sebesar 222 unit atau setara dengan Rp. 22.200.000. Selama periode Januari hingga April 2025, penjualan kedua produk selalu berada di atas nilai BEP tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa Break Even Point (BEP) efektif digunakan sebagai alat perencanaan laba dan pengambilan keputusan usaha yang berkelanjutan. Sedangkan hasil Margin of Safety tertinggi tercatat pada bulan Maret 2025, yakni 60,7% untuk produk Cermin Rotan dan 54,3% untuk Tikar Purun Timung, yang menggambarkan tingkat keamanan keuangan yang sangat baik. Sementara nilai MOS terendah terjadi pada bulan Januari 2025 untuk produk Tikar Purun Timung sebesar 43,3%. Meskipun lebih rendah, nilai ini masih berada pada kategori aman.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa nilai Margin of Safety (MOS) pada UMKM Galeri PURUNIK bervariasi setiap bulannya, baik untuk produk Cermin Rotan maupun Tikar Purun Timung.Titik impas UMKM Galeri PURUNIK untuk produk cermin rotan adalah sebesar 190 unit atau setara dengan Rp 19.Untuk produk Tikar Purun Timung sebesar 222 unit atau setara dengan Rp.Selama periode Januari hingga April 2025, penjualan kedua produk selalu berada di atas nilai BEP tersebut.Secara keseluruhan, tingginya nilai MOS menunjukkan bahwa UMKM Galeri Purunik memiliki ruang penurunan penjualan yang luas sebelum mengalami kerugian.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar UMKM Galeri PURUNIK terus memantau dan mengevaluasi nilai BEP dan MOS secara berkala sebagai dasar pengambilan keputusan keuangan. Selain itu, perlu dilakukan inovasi produk guna menjaga daya saing dan memperluas pasar, seperti mengembangkan desain baru yang mengikuti tren pasar. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas ruang lingkup penelitian dengan mencakup beberapa UMKM untuk memperoleh gambaran yang lebih luas, serta mengombinasikan pendekatan lain seperti analisis Cost Volume Profit (CVP) atau analisis sensitivitas.

Read online
File size1.65 MB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test