JPTAMJPTAM

Jurnal Pendidikan TambusaiJurnal Pendidikan Tambusai

Manusia dituntut untuk tetap bertahan hidup, namun dalam menjalani kehidupan seseorang tidak lepas dari permasalahan. Beberapa individu menyelesaikan masalah secara positif, sementara yang lain menyalurkan emosi secara negatif, seperti mengonsumsi narkoba, minuman memabukan, atau menyakiti diri sendiri (self‑harm). Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dan teori interaksi simbolik dengan metode kualitatif, menemukan bahwa motivasi self‑harm meliputi masalah yang tidak dapat diceritakan, pengalaman traumatis, serta pola komunikasi keluarga yang kurang baik; tindakan tersebut dilakukan untuk menghukum diri sendiri dan melampiaskan emosi.

Mahasiswa pelaku self‑harm di Pekanbaru melakukan tindakan tersebut karena memiliki masalah yang tidak dapat diceritakan, pengalaman traumatis, dan pola komunikasi keluarga yang kurang baik, yang mendorong mereka menghukum diri sendiri dan melampiaskan emosi.Self‑harm dianggap memberikan rasa tenang sesaat serta mengalihkan rasa sakit psikologis, sehingga dipilih sebagai cara mengatasi rasa sakit emosional.Pengalaman komunikasi dengan lingkungan dapat bersifat positif, seperti dukungan moral, atau negatif, seperti penolakan, yang memengaruhi persepsi dan keberlanjutan perilaku self‑harm.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi efektivitas intervensi komunikasi keluarga dalam mengurangi perilaku self‑harm pada mahasiswa di Pekanbaru, misalnya dengan menguji program pelatihan komunikasi orang tua dan anak. Selanjutnya, penting untuk menyelidiki pengaruh media sosial terhadap intensitas dan pola self‑harm di kalangan mahasiswa, dengan fokus pada konten yang memicu atau mencegah perilaku tersebut. Penelitian longitudinal yang melacak perubahan kesehatan mental mahasiswa yang pernah melakukan self‑harm dan menerima berbagai bentuk dukungan psikologis dapat memberikan wawasan tentang faktor-faktor penentu pemulihan jangka panjang. Selain itu, studi komparatif antara mahasiswa di kota berbeda dapat mengidentifikasi faktor kontekstual yang memperkuat atau mengurangi risiko self‑harm. Akhirnya, pengembangan dan evaluasi aplikasi mobile yang menyediakan sumber daya psikologis serta jalur bantuan anonim dapat menjadi alternatif inovatif untuk mendukung mahasiswa yang mengalami krisis emosional.

Read online
File size215.48 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test