YAYASANNURULYAKINYAYASANNURULYAKIN

International Journal of Education and Teaching ZoneInternational Journal of Education and Teaching Zone

Efek bystander adalah kecenderungan individu untuk tidak merespons darurat dengan membantu, membela, atau menghentikan. Bullying adalah tanda bahwa seseorang dalam bahaya nyata dan mendesak. Upaya melibatkan bystander dalam intervensi akan menentukan apakah bullying menjadi lebih parah atau bahkan tidak terjadi jika mereka memiliki keterlibatan moral terhadap lingkungan sekitar. Penelitian ini akan menekankan peran bystander dalam insiden bullying, apakah ada korelasi antara peran bystander dan gender, dan bagaimana bystander melihat bullying dari perspektif moral. Metode penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif yang akan menggambarkan dan menjelaskan peran bystander dalam insiden bullying. Data penelitian dikumpulkan dari 104 siswa berusia 12-15 tahun dengan instrumen skala peran bystander bullying 37 item. Skala ini terdiri dari peran bystander seperti defender, assistant, outsider, aggressive defender, dan reinforcer. Peran assistant dan reinforcer menunjukkan pro-bullying dengan temuan 5% dan 42% dalam kategori sedang. Peran defender dan aggressive defender menunjukkan anti-bullying dengan temuan 22% dan 56% dalam kategori sedang. Sementara itu, peran outsider, yang merupakan inti dari bystander pasif, ditemukan sebesar 49% dalam kategori sedang dan 27% dalam kategori tinggi. Nilai r yang diperoleh adalah 0,036 < 0,195, menunjukkan korelasi lemah antara peran bystander dan gender. Berbagai peran pengamat pada kedua jenis kelamin menunjukkan bahwa peran bystander dapat dilakukan oleh siapa saja dan bahwa ada karakteristik individu yang menghambat, memperkuat, atau tidak peduli terhadap insiden bullying.

Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menyelidiki secara komprehensif peran dan tanggung jawab moral bystander dalam insiden bullying di antara siswa MTs berusia 12-15 tahun, dengan fokus khusus pada perbedaan gender.Temuan paling signifikan adalah tidak ada korelasi statistik yang kuat antara gender dan peran yang diambil oleh bystander (r = 0,036 < 0,195), menunjukkan bahwa kecenderungan menjadi defender, enforcer, asisten pelaku, atau bahkan pengamat pasif (outsider) tidak ditentukan secara inheren oleh gender.Penelitian ini menekankan bahwa peran outsider atau silent majority adalah fenomena yang paling umum, di mana sebagian besar siswa memilih untuk tidak terlibat.Fenomena ini dijelaskan sebagai manifestasi dari difusi tanggung jawab, yaitu proses psikologis di mana kehadiran orang lain mengurangi rasa tanggung jawab pribadi seseorang untuk bertindak, sehingga melumpuhkan kompas moral mereka untuk intervensi.Dengan demikian, penelitian ini mengonfirmasi bahwa tantangan utama dalam mencegah bullying bukan hanya menangani pelaku, tetapi juga mengaktifkan tanggung jawab moral mayoritas pasif siswa.Implikasi penelitian ini bagi Anda sebagai praktisi dan akademisi di bidang bimbingan dan konseling sangat signifikan.Intervensi tidak lagi fokus secara eksklusif pada pelaku dan korban, tetapi harus memprioritaskan pemberdayaan bystander pasif untuk menjadi defender aktif (upstanders).Program intervensi dapat diarahkan pada membangun rasa tanggung jawab moral individu, meningkatkan empati, dan pelatihan keterampilan intervensi prososial yang aman dan efektif untuk menangkal efek difusi tanggung jawab.Namun, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui.Pertama, generalisasi hasilnya terbatas karena teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling di satu sekolah tertentu (MTs Negeri 2 Sidoarjo), sehingga temuan mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi yang lebih luas.Kedua, daya statistik untuk mendeteksi perbedaan gender sangat rendah (daya observasi = 0,050), menunjukkan bahwa ukuran sampel yang lebih besar diperlukan dalam penelitian selanjutnya untuk mengonfirmasi tidak adanya efek gender.Ketiga, data yang dikumpulkan adalah self-reported, yang rentan terhadap bias sosial desirability, di mana responden mungkin menjawab sesuai dengan apa yang dianggap sebagai hal yang dapat diterima secara sosial, bukan perilaku sebenarnya.Keempat, desain penelitian cross-sectional hanya memberikan gambaran dan tidak dapat menetapkan hubungan sebab akibat atau melacak perubahan perilaku selama waktu.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengembangkan intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan keterlibatan bystander dalam mencegah dan menghentikan bullying. Penelitian ini menunjukkan bahwa peran bystander sangat penting dalam menentukan arah bullying, dan bahwa kebanyakan siswa memilih untuk tidak terlibat. Oleh karena itu, intervensi yang berfokus pada meningkatkan empati dan tanggung jawab moral bystander dapat membantu mengurangi insiden bullying dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman.. . 2. Memperluas penelitian untuk mencakup berbagai konteks dan kelompok usia. Penelitian ini terbatas pada siswa MTs berusia 12-15 tahun, dan mungkin bermanfaat untuk menyelidiki peran bystander di lingkungan yang berbeda, seperti sekolah menengah atas atau perguruan tinggi, serta di kalangan orang dewasa. Dengan memahami peran bystander di berbagai konteks, intervensi yang lebih efektif dapat dirancang untuk mencegah bullying di berbagai kelompok usia.. . 3. Meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan bystander untuk bertindak atau tidak. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku bystander, seperti kehadiran guru, perhatian guru, keterbukaan sekolah, dan keterlibatan positif dengan siswa. Dengan memahami faktor-faktor ini secara lebih mendalam, intervensi yang lebih terarah dapat dikembangkan untuk mendorong bystander mengambil tindakan yang pro-sosial dan membantu korban bullying. Selain itu, penelitian dapat menyelidiki bagaimana faktor-faktor ini berbeda di antara gender dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi keputusan bystander untuk bertindak atau tidak.

  1. Analysis of Counseling Barriers in Handling Bullying Cases in Senior High Schools | International Journal... doi.org/10.57092/ijetz.v2i3.88Analysis of Counseling Barriers in Handling Bullying Cases in Senior High Schools International Journal doi 10 57092 ijetz v2i3 88
  2. Konsep Populasi dan Sampling Serta Pemilihan Partisipan Ditinjau Dari Penelitian Ilmiah Pendidikan |... doi.org/10.61104/ihsan.v1i2.55Konsep Populasi dan Sampling Serta Pemilihan Partisipan Ditinjau Dari Penelitian Ilmiah Pendidikan doi 10 61104 ihsan v1i2 55
  3. Identifikasi Pengalaman Bystander pada Peristiwa Bullying di Sekolah | Najiba | Jurnal Pendidikan dan... jurnal.habi.ac.id/index.php/JPK/article/view/411Identifikasi Pengalaman Bystander pada Peristiwa Bullying di Sekolah Najiba Jurnal Pendidikan dan jurnal habi ac index php JPK article view 411
Read online
File size871.23 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test