LPPM UNBAJALPPM UNBAJA

Just a moment...Just a moment...

Pengeluaran farmasi Indonesia sekitar 40% dan dianggap tinggi. Manajemen pengobatan yang tidak efisien menyebabkan berkurangnya ketersediaan obat, kekurangan obat, penumpukan banyak obat akibat jadwal pemberian dosis yang tidak tepat, serta meningkatnya biaya obat akibat penggunaan obat yang tidak rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kebutuhan obat, penyimpanan dan penggunaan obat, distribusi obat, pengumpulan obat dan rencana pelaporan di pusat kesehatan masyarakat. Desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan pada tahun 2017 di seluruh Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Palu. Informan utama untuk penelitian ini adalah direktur pusat kesehatan masyarakat. Studi ini menemukan bahwa meskipun perencanaan kebutuhan obat‑obatan di pusat kesehatan masyarakat dilakukan bekerja sama dengan layanan kesehatan, beberapa obat‑obatan dibutuhkan tetapi tidak termasuk dalam katalog elektronik. Penyimpanan obat‑obatan di pusat kesehatan dilakukan berdasarkan sistem FIFO dan FEFO. Namun, keterbatasannya mencakup suhu yang tidak memenuhi persyaratan dan kurangnya lemari khusus untuk narkotika dan zat psikotropika. Masih terdapat obat‑obatan kosong yang menghambat penyaluran obat kepada pasien dan mempengaruhi efektivitas serta efisiensi pelayanan. Kesimpulannya, masih terdapat kendala dalam pengelolaan obat di puskesmas, mulai dari perencanaan kebutuhan, penyimpanan, penyaluran, pengambilan dan pelaporan obat, yang berujung pada terjadinya kadaluarsa.

Pemilihan obat berbasis e‑katalog, serta pola epidemiologi dan konsumsi, digunakan untuk merencanakan kebutuhan obat.Kendala meliputi beberapa obat yang diperlukan namun tidak tercantum dalam e‑katalog berurutan alfabet, tidak diterapkannya metode persiapan karena tidak adanya palet, suhu yang tidak sesuai, serta tidak adanya lemari khusus untuk narkotika dan obat psikotropika.Selain pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan pada setiap tahap manajemen obat, baik harian selama pelayanan pasien maupun bulanan melalui Lembar Pemakaian dan Lembar Penerimaan Obat, distribusi obat disesuaikan dengan kebutuhan Puskesmas dan pasien, namun pelaporan tidak dilakukan secara tepat waktu.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana integrasi sistem informasi farmasi berbasis cloud dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi pelaporan data obat di puskesmas, dengan menguji hipotesis bahwa penggunaan aplikasi mobile yang terhubung langsung ke server pusat akan mengurangi keterlambatan pelaporan hingga setengahnya serta meningkatkan transparansi inventaris. Selain itu, diperlukan studi komparatif yang mendalam mengenai efektivitas penerapan metode ABC‑VEN dalam prioritas pembelian obat dibandingkan dengan metode berbasis analisis konsumsi historis, sehingga dapat menentukan pendekatan mana yang paling efektif dalam meminimalkan stok berlebih, mengurangi risiko kedaluwarsa, dan sekaligus memastikan ketersediaan obat esensial. Selanjutnya, penelitian kualitatif dapat meneliti persepsi dan pengalaman tenaga kesehatan terhadap penggunaan lemari khusus untuk narkotika serta zat psikotropika, serta mengidentifikasi hambatan struktural, budaya kerja, dan faktor perilaku yang mempengaruhi kepatuhan terhadap standar penyimpanan, sehingga dapat merumuskan rekomendasi kebijakan yang mendukung implementasi fasilitas penyimpanan yang aman dan sesuai regulasi. Ketiga arah studi ini diharapkan memberikan wawasan mendalam serta solusi praktis untuk meningkatkan manajemen obat secara keseluruhan di puskesmas.

Read online
File size179.35 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test