UM SURABAYAUM SURABAYA

AGREGATAGREGAT

Kondisi tanah dekat pantai menyebabkan tanah dilokasi proyek ini merupakan tanah lanau kepasiran. Dengan kondisi tersebut perlu dilakukan evaluasi terhadap daya dukungnya karena daya dukung merupakan syarat mutlak yang harus diperhatikan dalam perencanaan pondasi yang aman. Dengan mengetahui daya dukung kita dapat merencanakan beban yang diberikan agar daya dukung ultimate yang ada tidak dilampaui karena apabila beban yang bekerja melampaui daya dukung ultimatenya akan berakibat kegagalan struktur. Banyaknya teori daya dukung memaksa perencana untuk bisa membandingkan teori daya dukung mana yang optimal digunakan untuk perencanaan pondasi. Perhitungan daya dukung tiang dilakukan dengan menggunakan dua teori yaitu teori Meyerhoff dan LDecourt. Digunakan dua data titik bor N-SPT pada tanah gedung At-tauhid UM-Surabaya yang berlokasi di Surabaya Timur. Dengan memberikan variasi kedalaman tiang (20, 22, dan 24 m) dan dipilih bentuk penampang tiang persegi (s = 0.5 m) dengan faktor keamanan 3 maka dapat dihitung besarnya daya dukung ujung (Qp), daya dukung selimut (Qs), daya dukung ultimate (Qult) serta daya dukung izin (Qall) agar dapat dibandingkan daya dukung mana yang paling efektif dari kedua teori tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh nilai daya dukung rata-rata berdasarkan nilai perbandingan antara LDecourt terhadap Meyerhof pada DB-1 adalah Qp= 0.96, Qs= 2, Qult= 1.28, Qall = 1.28 dan pada DB-2 adalah Qp= 0.96, Qs= 1.99, Qult = 1.21, Qall = 1.21.

Secara keseluruhan, hasil studi ini menunjukkan bahwa teori LDecourt menghasilkan daya dukung yang lebih besar dibandingkan teori Meyerhoff.Ini terlihat dari nilai daya dukung ujung (Qp), daya dukung selimut (Qs), dan daya dukung ultimate (Qult) serta daya dukung izin (Qall) di kedua lokasi bor.Namun, daya dukung terbesar terjadi pada daya dukung ujung menggunakan teori Meyerhoff.

Untuk melakukan penelitian lanjutan yang lebih lebar, lebih baik mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi perbandingan hasil teori Meyerhoff dan LDecourt terhadap tanah lanau kepasiran di Surabaya Timur. Sebagai contoh, penelitian dapat dilakukan dengan membandingkan dua teori tersebut terhadap kondisi tanah berbutir kasar dan tanah berbutir halus. Penelitian lanjutan juga perlu mengevaluasi seberapa tepat kedua teori tersebut dalam estimasi daya dukung tiang di berbagai jenis tanah dan kondisi pengujian. Selain itu, perbandingan antara kedua teori tersebut dapat dilanjutkan dengan memakai metode uji yang lebih banyak, bukan hanya mengandalkan uji N-SPT, seperti menggunakan metode uji CPT (Cone Penetration Test) di lebih banyak lokasi untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang daya dukung tiang.

Read online
File size912.45 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test