APPISIAPPISI

Momentum Matrix: International Journal of Communication, Tourism, and Social Economic TrendsMomentum Matrix: International Journal of Communication, Tourism, and Social Economic Trends

Sepakbola jauh lebih dari sekadar permainan; ia merupakan bahasa budaya yang menyatukan orang‑orang lintas bangsa dan generasi. Di Indonesia, gairah terhadap sepakbola meluas melampaui liga domestik, di mana pendukung lokal juga membentuk komunitas kuat di sekitar klub internasional. Salah satunya adalah Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) wilayah Bekasi, sebuah kolektif penggemar Chelsea FC yang tidak hanya berbagi kekaguman terhadap tim, tetapi juga memelihara ikatan sosial serta rasa memiliki dalam komunitasnya. Makalah ini menawarkan eksplorasi konseptual mengenai bagaimana kekompakan anggota CISC Bekasi berkontribusi pada pembentukan citra komunitas yang positif. Dengan mengacu pada pemikiran Mulyana (2016), Collins dan Raven (dalam Arifuddin, 2016), serta Muniz dan OGuinn (dalam Ratnawati & Lestari, 2018), diskusi menekankan peran komunikasi kelompok dalam menumbuhkan solidaritas dan identitas kolektif. Dalam kelompok, komunikasi tidak hanya terbatas pada pertukaran informasi, melainkan juga berfungsi sebagai media dukungan emosional, nilai bersama, dan tanggung jawab moral.

Studi konseptual ini menunjukkan bahwa kekompakan kelompok merupakan inti dan kekuatan utama bagi komunitas yang ingin membangun citra publik yang positif, dan ia berkembang melalui komunikasi, pengalaman bersama, serta proses makna berkelanjutan antar anggota.Dalam konteks CISC Bekasi, komunikasi tidak sekadar pertukaran informasi, melainkan meliputi koneksi emosional, ritual bersama, dan pemahaman moral yang memperkuat rasa memiliki serta reputasi positif di mata masyarakat.Selanjutnya, kekompakan yang berlandaskan nilai kebersamaan dan gotong‑royong Indonesia menjadikan komunitas ini tidak hanya sekadar klub pendukung, melainkan modal sosial budaya yang berkontribusi pada kesejahteraan sosial.

Penelitian selanjutnya dapat menguji secara empirik model konseptual yang dikemukakan dengan pendekatan campuran (kuantitatif‑kualitatif) untuk mengukur hubungan antara komunikasi, kekompakan, dan citra publik pada CISC Bekasi serta komunitas pendukung lainnya. Kedua, perbandingan lintas wilayah antara CISC Bekasi dan kelompok pendukung klub internasional lain di Indonesia dapat mengungkap faktor‑faktor kontekstual yang memengaruhi tingkat kekompakan dan persepsi masyarakat. Ketiga, studi longitudinal mengenai peran platform digital—seperti media sosial dan aplikasi pesan—dalam memperkuat atau merusak kekompakan kelompok dapat memberikan wawasan tentang strategi komunikasi daring yang efektif untuk mempertahankan citra positif. Keempat, eksplorasi peran generasi muda dalam mentransfer nilai‑nilai kekompakan kepada anggota baru dapat menilai keberlanjutan komunitas dalam jangka panjang. Kelima, analisis dampak kegiatan sosial‑kebudayaan yang diinisiasi oleh CISC terhadap partisipasi warga lokal dapat memperluas pemahaman tentang kontribusi fan‑community terhadap pembangunan sosial.

Read online
File size254.31 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test