UNIPASBYUNIPASBY

EMBRIO: Jurnal KebidananEMBRIO: Jurnal Kebidanan

Pernikahan dini masih umum terjadi dan menimbulkan berbagai permasalahan di bidang sosial dan ekonomi. Faktor-faktor penyebab kejadian pernikahan dini di masyarakat cukup bervariasi dan umumnya berbeda di setiap lokasi. Penelitian ini terfokus pada identifikasi faktor yang menyebabkan tingginya angka pernikahan dini di Kota Semarang. Subjek penelitian terdiri atas para pelaku pernikahan dini yang ada di Kota Semarang, baik yang menikah di antara tahun 2015–2018, pemerintah Kota Semarang, tokoh agama, tokoh masyarakat di sekitar pelaku tinggal, dan petugas KUA dengan total sebanyak 427 responden. Sampel penelitian ditentukan menggunakan sistem snowball sampling karena keterbatasan data dan sulitnya mengakses informasi pelaku pernikahan dini. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, metode wawancara, dan metode kuesioner. Analisis data yang digunakan pada data kuantitatif dalam penelitian ini adalah teknik Structural Equation Modelling (SEM) untuk mengukur faktor-faktor penyebab pernikahan dini. Beberapa temuan utama dari penelitian ini meliputi: (a) fakta bahwa 83,88% motif pelaku pernikahan dini di Kota Semarang adalah kehamilan di luar nikah; (b) pelaku pernikahan dini di Kota Semarang lebih banyak ditemukan di daerah-daerah pinggiran dibandingkan di pusat kota; (c) terdapat perbedaan persepsi mengenai faktor yang mendorong terjadinya pernikahan dini, masyarakat umum beranggapan bahwa pekerjaan dan ekonomi menjadi faktor pendorong yang sangat tinggi (90%) namun demikian pelaku mengaku bahwa faktor tersebut hanya mampu mendorong keputusan menikah sebesar 4%. Diperlukan program yang terintegrasi untuk penanggulangan pernikahan dini baik secara preventif maupun represif dari dinas-dinas terkait untuk menekan jumlah pernikahan dini di Kota Semarang dan meminimalisir dampak sosial bagi pelaku di masa depan.

Mayoritas pelaku pernikahan dini merupakan pasangan dari keluarga yang kurang mampu, berusia 17-19 tahun untuk laki-laki dan 15-18 tahun untuk perempuan.Jenjang pendidikan terendah adalah lulusan SD dan maksimal SMK dan tidak memiliki pekerjaan tetap.Pekerjaan utama pelaku pernikahan dini adalah sector informal seperti berdagang dan jasa parkir, sedangkan pelaku wanita biasa bekerja sebagai penjual online shope dan ibu rumah tangga.Seluruh pelaku pernikahan dini di Kota Semarang berasal dari keluarga kurang mampu dari segi perekonomian, mayoritas bertempat tinggal di kecamatan yang terletak jauh dari pusat kota.Pendidikan tertinggi pelaku pernikahan dini di Kota Semarang adalah tamatan SMA atau SMK, dan paling rendah adalah tamatan SD.Pernikahan dini di Kota Semarang tidak disebabkan oleh masalah ekonomi, tapi karena insiden hamil di luar nikah.Faktor pendorong utama terjadinya pernikahan dini yang terkait hal tersbeut adalah faktor psikologis pelaku 80%, sosial dan pergaulan 79% dan budaya di masyarakat 77% dan pengetahuan terkait pernikahan dan seks yang rendah mendorong 61%.Strategi yang dapat dikembangkan adalah dengan melakukan pencegahan melalui integrasi data dan program dinas terkait, pemahaman pendidikan seks usia dini, penguatan kontrol sosial dengna menghidupkan wadah-wadah aktivitas masyarakat yang positif seperti karang taruna, PKK, organisasi pemuda masjid.Melalukukan pelatihan pengembangan potensi bagi siswa putus sekolah untuk mampu mandiri dari segi ekonomi.Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya integrasi dinas terkait.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan fokus pada intervensi terhadap tumbuh kembang remaja dan keluarga, khususnya orang tua. Penelitian ini dapat mengeksplorasi strategi-strategi intervensi yang efektif dalam meningkatkan kontrol orang tua dan keluarga terhadap perilaku remaja, serta menguatkan pendidikan agama dan pengetahuan tentang seks dan pernikahan dini. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat berfokus pada pengembangan program-program pencegahan pernikahan dini yang terintegrasi dengan dinas terkait, seperti dinas pendidikan, kesehatan, dan agama. Program-program ini dapat mencakup pendidikan seks usia dini, penguatan kontrol sosial, dan pelatihan pengembangan potensi bagi siswa putus sekolah. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi angka pernikahan dini di Kota Semarang dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi pelaku di masa depan.

Read online
File size220.91 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test