PARIPARI

JRI (Jurnal Radiografer Indonesia)JRI (Jurnal Radiografer Indonesia)

Latar belakang: Prosedur pemeriksaan MRI pelvis pada kasus kanker serviks di Instalasi Radiodiagnostik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung menggunakan urutan T2 HASTE dan T2 HASTE Fat Saturation, meskipun beberapa literatur belum menggunakannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prosedur pemeriksaan serta alasan penambahan urutan tersebut dalam MRI pelvis pada kasus kanker serviks. Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan 3 pasien, 3 radiografer, 3 spesialis radiologi, dan 1 pengirim; data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, diskusi, dan kesimpulan. Hasil: Protokol MRI pelvis pra kontras meliputi urutan lokalizer, T2 HASTE sagital, aksial, dan koronal, T2 HASTE Fat Saturation sagital, T1 TSE sagital dan aksial, DWI, serta T2 TSE STIR koronal; pasca kontras menggunakan T1 VIBE Dynamic sagital, T1 TSE Fat Saturation aksial, sagital, dan koronal. Penambahan T2 HASTE bertujuan menampilkan lesi pada area serviks, mengukur ukuran massa, mengurangi artefak gerakan diafragma, serta memperlihatkan pembesaran kelenjar getah bening pelvis. Penambahan T2 HASTE Fat Saturation bertujuan menentukan komposisi lesi kanker serviks (kistik, padat, atau perdarahan). Kesimpulan: T2 HASTE dapat mendeteksi dan mengukur ukuran massa, sementara T2 HASTE Fat Saturation dapat menilai komponen massa.

T2 HASTE dan T2 HASTE Fat Saturation merupakan sekuen rutin pada MRI pelvis untuk kanker serviks.T2 HASTE dapat mendeteksi lesi serviks, mengukur ukuran massa, serta mengurangi artefak gerakan dan memperlihatkan pembesaran kelenjar getah bening pelvis.T2 HASTE Fat Saturation dapat menentukan komposisi lesi (kistik, padat, atau perdarahan).

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas kombinasi T2 HASTE dengan teknik pemetaan difusi (DWI) dalam meningkatkan akurasi staging kanker serviks pada populasi yang lebih luas, sehingga dapat menentukan apakah penambahan DWI memberikan nilai diagnostik tambahan. Selanjutnya, diperlukan studi komparatif antara T2 HASTE Fat Saturation dan teknik supresi lemak lainnya seperti STIR atau Dixon untuk menilai kelebihan masing‑masing dalam mengekspresikan komposisi jaringan lesi, khususnya pada tumor yang memiliki komponen kistik‑padat campur. Terakhir, sebuah penelitian longitudinal dapat meneliti korelasi antara temuan MRI dengan hasil histopatologi dan kelangsungan hidup pasien, guna mengidentifikasi apakah parameter yang diukur pada T2 HASTE (ukuran, bentuk, dan intensitas) dapat dijadikan prediktor prognostik yang independen.

  1. Diagnostic Accuracy of Ultrasonography and Magnetic Resonance Imaging in the Assessment of Placenta Previa... doi.org/10.5336/jcog.2018-61838Diagnostic Accuracy of Ultrasonography and Magnetic Resonance Imaging in the Assessment of Placenta Previa doi 10 5336 jcog 2018 61838
  2. Multimodality Imaging of Uterine Cervical Malignancies : American Journal of Roentgenology : Vol. 215,... ajronline.org/doi/10.2214/AJR.19.21941Multimodality Imaging of Uterine Cervical Malignancies American Journal of Roentgenology Vol 215 ajronline doi 10 2214 AJR 19 21941
  3. Optimization of MR Imaging for Pretreatment Evaluation of Patients with Endometrial and Cervical CancerRadioGraphics.... doi.org/10.1148/rg.344140001Optimization of MR Imaging for Pretreatment Evaluation of Patients with Endometrial and Cervical CancerRadioGraphics doi 10 1148 rg 344140001
Read online
File size355.66 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test