ADPETIKISINDOADPETIKISINDO

Moderation | Journal of Islamic Studies ReviewModeration | Journal of Islamic Studies Review

Karakteristik utama era post‑truth adalah penyebaran luas berita palsu (hoaks), disinformasi, dan misinformasi yang bergerak dengan kecepatan luar biasa. Informasi ini sering dirancang untuk memanipulasi emosi, memperkuat polarisasi, atau merusak reputasi, sehingga batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur dan masyarakat sulit membedakan kebenaran. Di dalam konteks dakwah, era ini menimbulkan tantangan signifikan karena pesan‑pesan yang didasarkan pada dalil kuat dapat mudah terdistorsi oleh narasi emosional, sementara komunitas umat berisiko terpapar ajaran menyimpang akibat kesulitan mengidentifikasi sumber yang kredibel, yang pada akhirnya mengancam kepercayaan publik terhadap institusi keagamaan.

Penguatan sanad ilmu dan kredibilitas dai menjadi faktor utama dalam menanggulangi disinformasi, sementara kolaborasi lintas lembaga dan profesi diperlukan untuk menghadapi tantangan era modern secara terpadu.Pengembangan konten dakwah berbasis data dan fakta meningkatkan keabsahan pesan dan memperkuat kepercayaan umat, sedangkan pembentukan komunitas digital yang positif dan edukatif menyediakan ruang aman untuk dialog konstruktif dan mitigasi dampak negatif media sosial.

Penelitian kuantitatif‑kualitatif dapat mengukur sejauh mana platform komunitas digital yang dikelola lembaga dakwah meningkatkan literasi digital serta menurunkan penyebaran hoaks di kalangan umat. Selanjutnya, diperlukan pengembangan dan evaluasi kerangka kerja konten dakwah berbasis data yang mengintegrasikan sumber ilmiah dan dalil agama, untuk menilai dampaknya terhadap kredibilitas dai. Studi aksi kolaboratif antara lembaga dakwah, akademisi, dan pakar teknologi dalam merancang sistem verifikasi informasi (tabayyun) otomatis juga penting, dengan analisis pengaruhnya terhadap kepercayaan publik. Analisis longitudinal mengenai pengaruh pelatihan etika digital bagi dai terhadap persepsi umat terhadap kredibilitas lembaga dapat memberikan insight strategis. Eksperimen perbandingan antara metode dakwah tradisional dan interaktif, seperti live streaming, dapat mengidentifikasi cara efektif mengurangi polarisasi dan memfasilitasi dialog konstruktif. Akhirnya, kajian etnografi tentang dinamika komunikasi dalam komunitas digital Islami dapat mengungkap praktik terbaik untuk menjaga adab serta mengurangi cyberbullying.

Read online
File size498.14 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test