UNIKSUNIKS

JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA)JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA)

Jamur dimanfaatkan sebagai agen biokontrol untuk menekan penyakit tanaman melalui mekanisme antagonistik, di mana ia melepaskan enzim yang mendegradasi dinding sel patogen dan menghambat pertumbuhannya. Mekanisme antibiosis diinisiasi oleh jamur biokontrol melalui produksi molekul atau metabolit sekunder. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji komposisi metabolit sekunder dari jamur biokontrol Trichoderma spp., Aspergillus flavus, Gliocladium sp., dan spesies Penicillium. Pendekatan implementasi melibatkan penggunaan pengujian fitokimia kualitatif dan analisis HPLC. Hasil investigasi terhadap profil metabolit Trichoderma spp., Aspergillus flavus, Gliocladium sp., dan spesies Penicillium menunjukkan keberadaan alkaloid, fenolik, dan flavonoid dalam sampel. Hasil analisis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) mengindikasikan adanya 10-11 senyawa, sebagaimana dibuktikan oleh puncak-puncak yang teramati dalam kromatogram. Senyawa-senyawa ini diduga terkait dengan kelompok fenolik dan alkaloid.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil metabolit dari Trichoderma spp.memiliki karakteristik kualitatif yang konsisten dengan keberadaan alkaloid, fenolik, dan flavonoid.Analisis HPLC selanjutnya mengungkap adanya 10-11 senyawa, yang terdeteksi melalui puncak-puncak yang teramati dalam kromatogram.Puncak tertinggi dari senyawa-senyawa ini diidentifikasi sebagai kelompok yang berpotensi termasuk dalam golongan fenolik dan alkaloid.

Penelitian lanjutan dapat berfokus pada optimasi kondisi kultur untuk jamur biokontrol, mengingat hasil studi ini mengindikasikan bahwa kondisi media PDB mungkin belum optimal untuk ekspresi penuh semua kelompok metabolit. Investigasi mendalam mengenai pengaruh berbagai jenis media tanam, komposisi nutrisi, kadar pH, suhu inkubasi, dan durasi pertumbuhan terhadap produksi dan keragaman metabolit sekunder (seperti terpenoid dan saponin yang tidak terdeteksi) akan sangat berharga. Pendekatan ini berpotensi mengungkap spektrum senyawa bioaktif yang lebih luas, sehingga memaksimalkan kapasitas jamur sebagai agen biokontrol yang efektif. Selain itu, langkah penting berikutnya adalah mengidentifikasi secara presisi struktur kimia dari 10-11 senyawa yang terdeteksi melalui analisis HPLC, terutama yang diduga termasuk dalam kelompok fenolik dan alkaloid. Penggunaan teknologi lanjutan seperti LC-MS/MS atau NMR akan memungkinkan penentuan identitas senyawa secara akurat. Setelah identifikasi, pengujian fungsional setiap senyawa terisolasi terhadap berbagai patogen tanaman secara in vitro dan in vivo akan memvalidasi kontribusi langsung mereka terhadap mekanisme biokontrol. Terakhir, sangat menarik untuk mengeksplorasi potensi efek sinergis antarberbagai metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur-jamur ini. Mempelajari bagaimana kombinasi alkaloid, fenolik, dan flavonoid bekerja sama dalam menghambat patogen dapat membuka jalan bagi pengembangan formulasi biopestisida yang lebih ampuh. Perluasan pengujian ke spektrum patogen yang lebih luas, termasuk bakteri dan virus, juga akan memperkaya pemahaman tentang aplikasi dan potensi serbaguna dari agen biokontrol berbasis jamur ini dalam pengelolaan penyakit tanaman secara berkelanjutan.

Read online
File size193.87 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test