AMIKOMAMIKOM

Nation State: Journal of International StudiesNation State: Journal of International Studies

Pada 1 Februari 2021, militer Myanmar melakukan kudeta, menghentikan secara mendadak transisi politik negara tersebut dan memicu kekerasan luas, penderitaan kemanusiaan, serta ketidakstabilan regional. Artikel ini mengkaji bagaimana India dan China, dengan sistem politik, kebijakan luar negeri, dan kepentingan strategis yang berbeda, merespon krisis tersebut dan membentuk keterlibatan regional di Myanmar pasca kudeta. Dengan pendekatan kualitatif, studi ini memanfaatkan pernyataan resmi pemerintah, laporan berita, dan publikasi ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa China mempertahankan hubungan dekat dengan junta untuk mengamankan investasi Belt and Road Initiative (BRI), sambil berinteraksi dengan kelompok bersenjata etnis untuk memastikan stabilitas perbatasan dan melindungi aset ekonominya. India, sebaliknya, menerapkan strategi “dual‑track — secara publik mendukung norma demokratis namun tetap menjaga hubungan dengan rezim militer demi keamanan dan kepentingan strategisnya. Namun, dukungan terbatas India terhadap kekuatan pro‑demokrasi dan kebijakan pengungsi yang restriktif melemahkan kredibilitas regionalnya, sementara diplomasi pragmatis China memungkinkan ia mempertahankan pengaruh dan mendominasi secara strategis di Myanmar. Analisis komparatif ini menyoroti dinamika kekuasaan yang berubah antara China dan India di Asia Tenggara dan menyarankan bahwa kebijakan yang lebih fleksibel dan inklusif dari kedua aktor sangat penting untuk berkontribusi pada stabilitas jangka panjang Myanmar serta memajukan kepentingan regional mereka.

Chinas pragmatic, multi‑track engagement in Myanmar, blending diplomatic, economic, and selective security measures, enables Beijing to secure long‑term strategic advantages in the region.In contrast, Indias security‑centric approach and limited interaction with the military regime constrain New Delhis ability to navigate Myanmars complex socio‑political landscape effectively.Both countries would benefit from adopting more inclusive and adaptive policies that involve civil society, ethnic groups, and pro‑democracy actors to enhance legitimacy and effectiveness in promoting regional stability.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana inklusi masyarakat sipil dan kelompok bersenjata etnis dalam proses diplomatik memengaruhi efektivitas kebijakan luar negeri di Myanmar yang sedang konflik; selanjutnya, studi perbandingan dapat menilai hasil jangka panjang strategi multi‑track versus dual‑track yang diterapkan oleh kekuatan regional di konteks geopolitik serupa seperti Sudan atau Suriah untuk memahami keunggulan relatif masing‑masing; serta, penelitian ketiga dapat merancang kerangka kebijakan luar negeri adaptif yang mengintegrasikan bantuan kemanusiaan dan proyek pembangunan, sehingga menyeimbangkan kepentingan strategis dan komitmen normatif India serta China dalam upaya mendukung stabilitas dan pembangunan berkelanjutan di Myanmar.

  1. Strategic Responses to Myanmar’s Political Crisis: A Comparative Analysis of India and China’s... jurnal.amikom.ac.id/index.php/nsjis/article/view/2020Strategic Responses to MyanmarAos Political Crisis A Comparative Analysis of India and ChinaAos jurnal amikom ac index php nsjis article view 2020
Read online
File size373.74 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test