ACTAMEDINDONESACTAMEDINDONES

Acta Medica IndonesianaActa Medica Indonesiana

Latar Belakang: Pada tahun 2019, virus imunodefisiensi manusia (HIV) telah menginfeksi sekitar 3,8 juta orang di Asia Tenggara dan menyebabkan 120.000 kematian. Di Indonesia, meskipun terdapat fluktuasi periodik, insiden HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya. Meskipun terapi antiretroviral (ART) secara substansial telah memperpanjang usia orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), berbagai faktor risiko terus memengaruhi hasil pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang secara signifikan terkait dengan mortalitas pada ODHA yang menjalani terapi ART di Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta, Indonesia. Metode: Dalam desain kohort retrospektif, kami meninjau data sosiodemografi dan klinis dari semua ODHA dewasa (berusia ≥18 tahun) yang memulai terapi ARV di Rumah Sakit Dr. Sardjito antara Januari 2008 dan Desember 2021. Pasien dengan data dasar yang tidak lengkap atau yang dirujuk dari fasilitas lain dikecualikan. Kohort akhir dikategorikan menjadi kelompok yang bertahan hidup dan meninggal. Analisis regresi logistik univariat dan multivariat dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang terkait dengan mortalitas, dan probabilitas kelangsungan hidup diperkirakan menggunakan kurva Kaplan–Meier. Hasil: Dari 1.591 pasien yang termasuk dalam penelitian, 199 meninggal selama periode tindak lanjut. Analisis univariat mengungkapkan bahwa usia di atas 45 tahun, status tuberkulosis, jumlah CD4 rendah, pekerjaan, dan stadium klinis HIV/AIDS lanjut secara signifikan terkait dengan mortalitas. Analisis multivariat lebih lanjut menunjukkan bahwa jumlah CD4 rendah, status pekerjaan, dan, yang paling penting, stadium klinis lanjut (stadium 3 dan 4) adalah prediktor independen kematian. Probabilitas kelangsungan hidup pada 1 dan 5 tahun masing-masing adalah 89% dan 87%. Kesimpulan: Pekerjaan, jumlah CD4 , dan stadium klinis secara kritis memengaruhi mortalitas pada ODHA yang menjalani terapi ART, dengan stadium klinis lanjut menjadi faktor yang paling signifikan. Diagnosis dini dan inisiasi ART yang cepat sangat penting untuk meningkatkan kelangsungan hidup.

Pekerjaan, jumlah CD4 , dan stadium klinis secara signifikan memengaruhi mortalitas pada ODHA yang menjalani terapi ART, dengan stadium klinis lanjut menjadi faktor yang paling berpengaruh.Diagnosis dini dan inisiasi ART yang cepat sangat penting untuk meningkatkan kelangsungan hidup.Penelitian ini menyoroti pentingnya intervensi yang ditargetkan, terutama untuk kelompok berisiko tinggi, guna meningkatkan manajemen dan prognosis ODHA.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara mendalam dampak jenis pekerjaan dan kondisi kerja terhadap risiko kematian pada ODHA, termasuk analisis kualitatif untuk menggali pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh pekerja dengan HIV/AIDS. Kedua, studi prospektif yang melibatkan pemantauan ketat terhadap kepatuhan pengobatan ART dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti dukungan sosial, aksesibilitas layanan kesehatan, dan stigma, dapat memberikan wawasan berharga untuk meningkatkan hasil pengobatan. Ketiga, penelitian yang berfokus pada identifikasi biomarker atau penanda biologis yang dapat memprediksi risiko kematian pada ODHA dengan stadium klinis lanjut, serta pengembangan strategi intervensi yang dipersonalisasi berdasarkan profil risiko individu, perlu dilakukan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengendalian HIV/AIDS dan peningkatan kualitas hidup ODHA di Indonesia.

Read online
File size823.15 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test