UINMADURAUINMADURA

Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan DakwahMeyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah

Fakta dan hoax berita tentang covid-19 banyak bertebaran di media. Hal tersebut menimbulkan kepanikan dan kebingungan khalayak. Di tengah kegalauan khalayak terhadap simpang siurnya informasi, di sisi lain sosok dai atau “opinion leader virtual kerap memberikan pandangan terhadap topik yang beredar di masyarakat maupun media sosial dari sudut pandang Islam, melalui dakwah yang mereka sampaikan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana peran dai-dai virtual dalam memberikan literasi terhadap khalayak terkait pesan-pesan Covid 19 di media sosial. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Baruga Kota Kendari. Kriteria informan yaitu berada pada rentang umur 17-30 tahun, pengguna media sosial, serta sering mengakses ceramah agama dari media sosial baik youtube, Instagram dan facebook. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dai-dai virtual yang paling banyak memberikan literasi terhadap pesan terkait Covid 19 adalah Ustadz Dasat Latief, Ustadz Somad dan Aa Gym. Ustadz Dasat Latif relatif sering tampil untuk memberikan penjelasan terkait Covid 19, baik di media mainstream maupun di media virtual, bahkan Kemenkes menggunakan beliau dalam iklan layanan masyarakat untuk Covid 19. Gaya Bahasa yang diselingi dengan humor, menggunakan gaya berbicara khas orang Sulawesi menjadikan khalayak lebih mudah memahami penjelasan para dai dalam mengulas masalah Covid 19 yang ditinjau dari sudut pandang Al Quran dan Hadis. Di tengah krisis kepercayaan masyarakat tentang informasi yang beredar di masyarakat, terdapat kekuatan lain yang dapat memberikan pemahaman tersebut yaitu the power of dai-dai virtul.

Ditengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap opinion leader dakwah para dai muncul sebagai sosok yang dapat dipercaya dan dapat menenangkan masyarakat dari isu-isu yang beredar di masyarakat.Hal ini dapat dilihat bahwa dakwah tidak hanya berfungsi sebagai syiar Islam atau penyampai ajaran-ajaran agama, tetapi juga sebagai opinion leader di masyarakat yang menjadi panutan dalam mengambil keputusan di tengah kegalauan masyarakat dan informasi yang simpang siur diakibatkan oleh keberlipahan pesan di media massa dan media social, sehingga khalayak tidak dapat lagi membedakan mana informasi yang layak untuk dipercaya dan mana informasi yang seharusnya tidak digubris (Hoax).

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengkaji efektivitas berbagai gaya dakwah virtual dalam meningkatkan literasi masyarakat terkait isu kesehatan publik. Hal ini penting untuk memahami bagaimana pendekatan komunikasi yang berbeda dapat mempengaruhi pemahaman dan perilaku masyarakat. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis dampak dakwah virtual terhadap kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan yang berasal dari sumber-sumber resmi, seperti pemerintah dan lembaga kesehatan. Dengan demikian, dapat diketahui apakah dakwah virtual dapat berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan informasi kesehatan yang kredibel. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi peran media sosial dalam menyebarkan informasi hoaks terkait kesehatan dan bagaimana dai virtual dapat berperan dalam melawan disinformasi tersebut. Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang strategi komunikasi yang efektif untuk memerangi hoaks dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi yang akurat dan terpercaya.

Read online
File size656.25 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test