YRPIPKUYRPIPKU

Journal of Applied Engineering and Technological Science (JAETS)Journal of Applied Engineering and Technological Science (JAETS)

Gempa yang mengguncang Sumatera Barat dengan magnitude 7,9 SR, kedalaman 71 km, dan pusat gempa sekitar 0,84 LS – 99,65 BT, berjarak sekitar 57 km barat daya Pariaman pada 30 September 2009 menyebabkan kerusakan pada infrastruktur dan bangunan serta menimbulkan 383 korban jiwa. Salah satu dampak gempa tersebut adalah fenomena likuifaksi, yang dilaporkan terjadi di Padang berupa semburan pasir yang keluar dari retakan tanah setelah gempa 7,9 SR tahun 2009. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi likuifaksi pada jalur kereta api Sintuk Toboh Gadang, Pariaman, dengan menggunakan berbagai metode analisis potensi likuifaksi, sehingga dapat diperoleh metode yang paling praktis dan meyakinkan. Metode yang dipakai meliputi Tsuchida (1970), Seed & Idriss (1971), Shibata & Teparaksa (1988), dan Hakam (2020). Pengujian lapangan dilakukan pada empat titik uji CPT, empat titik uji NSPT, serta pengeboran mesin. Hasil menunjukkan bahwa dengan metode Tsuchida (1970) deposit tanah pada keempat titik cenderung memiliki potensi likuifaksi. Metode Seed & Idriss (1971) mengindikasikan bahwa titik 3 pada kedalaman 8 m dan 14 m, serta titik 4 pada kedalaman 8 m, berpotensi likuifaksi, sedangkan metode Shibata & Teparaksa (1988) menggunakan data CPT memperlihatkan bahwa pada kedalaman kurang dari 10 meter terdapat kecenderungan likuifaksi pada keempat titik yang ditinjau. Hasil analisis dengan metode Hakam (2020) menyerupai metode Seed & Idriss (1971). Dapat disimpulkan bahwa di antara keempat metode, metode yang paling praktis dan meyakinkan adalah metode Hakam (2020).

Metode yang paling efektif untuk menganalisis potensi likuifaksi adalah metode Hakam (2020).Metode ini, yang merupakan metode analisis sederhana, memberikan data analisis potensi likuifaksi yang meyakinkan dan mendekati hasil metode Seed & Idriss (1971) serta peta zona kerentanan likuifaksi.Berdasarkan kedua metode tersebut, dapat disimpulkan bahwa lokasi jalur kereta api Sintuk Toboh Gadang, Padang Pariaman, pada titik 1 dan 2 tidak memiliki potensi likuifaksi, sedangkan pada titik 3 potensi likuifaksi berada pada kedalaman 8 m–14 m, dan pada titik 4 pada kedalaman 8 m.Untuk mencegah dampak likuifaksi di lokasi ini, diperlukan desain fondasi yang menembus zona likuifaksi sehingga tetap stabil dan tidak terjadi kerusakan pada konstruksi rel.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji pengaruh tingkat muka air tanah terhadap akurasi prediksi metode Hakam dengan mengembangkan faktor koreksi berbasis data lapangan lokal, sehingga metode ini lebih sensitif terhadap kondisi hidrogeologi. Selanjutnya, perlu dilakukan integrasi pemodelan numerik tiga dimensi interaksi tanah‑struktur pada embankmen rel kereta api di bawah beban seismik, guna memvalidasi dan memperbaiki hasil dari metode empiris yang telah dipakai. Terakhir, penelitian dapat memperluas kedalaman pengukuran CPT menggunakan sensor downhole canggih dan memanfaatkan teknik pembelajaran mesin untuk meningkatkan prediksi potensi likuifaksi pada lapisan tanah yang lebih dalam, mengatasi keterbatasan kedalaman data CPT tradisional.

  1. KARAKTERISTIK TANAH TERDAMPAK DAN TIDAK TERDAMPAK LIKUIFAKSI BERDASARKAN UJI SWEDISH WEIGHT SOUNDING... ejournal.unib.ac.id/index.php/inersiajurnal/article/view/15022KARAKTERISTIK TANAH TERDAMPAK DAN TIDAK TERDAMPAK LIKUIFAKSI BERDASARKAN UJI SWEDISH WEIGHT SOUNDING ejournal unib ac index php inersiajurnal article view 15022
  2. Radware Bot Manager Captcha. radware manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human... doi.org/10.1088/1755-1315/708/1/012025Radware Bot Manager Captcha radware manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human doi 10 1088 1755 1315 708 1 012025
Read online
File size1.16 MB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test