UIN SUKAUIN SUKA

Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan HadisJurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis

Artikel ini menelaah perdebatan tentang visualisasi Nabi Muhammad dengan menautkannya kembali pada akar kanonik dalam al‑Syamāʾil al‑Muḥammadiyyah. Sumber hadis klasik—khususnya al‑Syamāʾil al‑Muḥammadiyyah karya al‑Tirmiżī—merumuskan potret verbal rinci tentang sosok Nabi yang berfungsi sebagai “ikon verbal anikonik dalam tradisi Islam. Kesenjangan riset yang disasar ialah kecenderungan kajian terhadap kartun, meme, dan film yang berpusat pada media dan jarang berlandaskan korpus hadis yang mula‑mula merumuskan ciri fisik Nabi, sehingga mata rantai antara potret verbal kanonik dan terjemahan visual modern kurang dikaji. Secara metodologis, artikel ini menerapkan pendekatan sejarah‑resepsi (kajian resepsi) pada tiga himpunan data: (1) hadis deskriptif tentang ciri fisik Nabi, (2) ceramah dan pembacaan mawlid di Indonesia, dan (3) media digital kontemporer (meme, kartun, film), dengan analisis isi kualitatif. Temuan menunjukkan.

Dalam tradisi Islam visualisasi Nabi Muhammad hanya dapat dilakukan melalui deskripsi verbal anikonik yang diturunkan dari sahabat terdekat, sehingga biasanya tidak menimbulkan kontroversi.Perselisihan muncul ketika pihak luar menciptakan gambar konkret yang tidak berlandaskan sumber kanonik, sehingga menimbulkan benturan klaim kebenaran agama.Ketegangan ini mencerminkan perbedaan pemahaman tentang makna kenabian dan kesulitan menempatkan figur suci dalam konteks lintas tradisi agama.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana genre devotional lain seperti puisi mawlid, lagu, dan karya seni lisan menyampaikan deskripsi syamāʾil Nabi, sehingga memperkaya pemahaman tentang transmisi visual anikonik dalam praktik keagamaan. Selanjutnya, studi kuantitatif dapat menganalisis tingkat interaksi pengguna media sosial terhadap berbagai tipe gambar Nabi—baik yang berlandaskan sumber kanonik maupun yang tidak—untuk menilai dampak persepsi publik dan potensi memicu kontroversi. Akhirnya, perbandingan lintas‑agama tentang representasi visual tokoh suci, termasuk cara tradisi non‑Islam menafsirkan sosok nabi, dapat membuka dialog interfaith yang lebih inklusif dan membantu merumuskan kerangka etika representasi yang menghormati sensitivitas religius masing‑masing komunitas.

  1. DOI Name 10.1386 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 34z crossref email 44z admin... doi.org/10.1386DOI Name 10 1386 Values doi name values index type timestamp data hs serv 34z crossref email 44z admin doi 10 1386
Read online
File size757.21 KB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test