UYPUYP

Teknologi Pangan : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi PertanianTeknologi Pangan : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian

Pengembangan kwetiau berbahan tepung beras memiliki kelemahan pada kadar protein dan tekstur. Oleh karena itu, isolat protein kedelai (IPK), digunakan untuk fortifikasi guna mengatasi kekurangan protein dan memperbaiki sifat organoleptik. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan kwetiau dari bahan tepung beras yang difortifikasi IPK untuk meningkatkan kadar protein dan mempertahankan sifat sensorisnya. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model 4D. Penelitian diawali dengan penetapan resep acuan yang diikuti formulasi adonan kwetiau dengan penambahan IPK pada konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10%. Bahan utama terdiri dari tepung beras, tepung tapioka, dan IPK yang diproduksi Linyi Shansong Biological Products Co. Ltd. Proses pembuatan kwetiau meliputi penimbangan, pencampuran, penambahan air, pengukusan, pendinginan, pemotongan, dan pengemasan vakum. Pengamatan dilakukan terhadap kadar protein dan sifat sensoris (warna, aroma, rasa, tekstur) melalui uji hedonik 30 panelis, lalu dianalisis secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan IPK meningkatkan kandungan protein kwetiau secara signifikan. Formulasi 10% IPK meningkatkan kadar protein dari 2,67% (kontrol) menjadi 5,75%. Sifat sensoris pada penambahan 10% IPK tidak berpengaruh signifikan terhadap aroma dan rasa, bahkan meningkatkan kesukaan panelis terhadap warna. Namun, tekstur kwetiau mengalami penurunan signifikan dengan penambahan 10% IPK, yang diduga karena pengaruh IPK yang terlalu tinggi sehingga kekuatan dan elastisitas gelnya menurun. Kesimpulannya penambahan 10% IPK pada kwetiau berhasil meningkatkan kadar protein tanpa berpengaruh terhadap penerimaan aroma, rasa, dan warna. Meskipun demikian, optimalisasi formulasi perlu dilakukan untuk memperbaiki tekstur yang menurun agar produk dapat diterima konsumen secara menyeluruh.

Penambahan 10% IPK pada kwetiau meningkatkan kadar protein secara signifikan tanpa mengurangi penerimaan sensoris terhadap aroma, rasa, dan warna.Namun, tekstur kwetiau mengalami penurunan yang memerlukan optimasi formulasi untuk peningkatan kualitas produk.Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh agen pengikat hidrokoloid terhadap stabilitas tekstur dan keberlanjutan nutrisi dalam kondisi penyimpanan jangka panjang.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji penggunaan agen pengikat hidrokoloid seperti pektin atau gellan gum untuk memperbaiki tekstur kwetiau yang mengalami penurunan akibat penambahan IPK. Selain itu, studi tentang efek konsentrasi IPK yang lebih rendah (misalnya 5-7,5%) terhadap keseimbangan nutrisi dan sifat sensoris produk perlu dilakukan untuk menemukan formula optimal. Terakhir, penelitian tentang stabilitas nutrisi dan daya tahan kwetiau selama penyimpanan dalam kondisi lingkungan berbeda dapat memberikan wawasan penting untuk pengembangan produk yang lebih tahan lama dan sesuai kebutuhan pasar.

  1. PENGARUH PENYULUHAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN TERHADAP SIKAP MENCUCI TANGAN SISWA | Jurnal Ilmiah Kesehatan... ojs.widyagamahusada.ac.id/index.php/JIK/article/view/21PENGARUH PENYULUHAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN TERHADAP SIKAP MENCUCI TANGAN SISWA Jurnal Ilmiah Kesehatan ojs widyagamahusada ac index php JIK article view 21
  2. Optimalisasi Biaya Konsumsi Pangan pada Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) di Desa Babakan, Bogor: Optimizing... journal.ipb.ac.id/index.php/jgizidietetik/article/view/46912Optimalisasi Biaya Konsumsi Pangan pada Anak Usia Sekolah 6 12 Tahun di Desa Babakan Bogor Optimizing journal ipb ac index php jgizidietetik article view 46912
Read online
File size378.63 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test