ITKAITKA

SAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan KesehatanSAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan Kesehatan

Ketahanan pangan menjadi isu global yang sangat penting, terutama di negara berkembang seperti Indonesia yang masih bergantung pada beras sebagai pangan pokok. Ketergantungan tersebut membuat masyarakat rentan terhadap fluktuasi produksi maupun distribusi beras. Lombok Timur, sebagai salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi tumbuhan pangan lokal yang cukup beragam seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, serta berbagai jenis sayuran dan buah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran diversifikasi tumbuhan pangan lokal dalam meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga di Lombok Timur. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara terbatas dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi pangan lokal mampu meningkatkan ketersediaan pangan, memperkuat gizi keluarga, serta mengurangi kerentanan rumah tangga terhadap krisis pangan. Kendala utama dalam implementasi strategi ini adalah rendahnya minat konsumsi masyarakat terhadap pangan non-beras dan terbatasnya akses pasar.

Temuan ini menegaskan pentingnya diversifikasi pangan lokal sebagai strategi adaptif dalam menghadapi ancaman ketahanan pangan nasional.Model penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas yang menekankan partisipasi lokal, inovasi teknologi sederhana, dan sinergi kebijakan dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan pangan di daerah lain dengan kondisi serupa.Selain itu, penelitian ini juga memberikan dasar empiris untuk pengembangan program desa mandiri pangan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Penting untuk melanjutkan penelitian mengenai strategi yang lebih efektif dalam mendorong konsumsi pangan lokal di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah: Bagaimana kampanye edukasi gizi dan pemasaran yang inovatif, termasuk penggunaan media sosial dan kolaborasi dengan koki atau tokoh lokal, dapat mengubah persepsi negatif dan meningkatkan minat konsumsi pangan non-beras agar tidak lagi dianggap sebagai makanan kelas bawah? Selanjutnya, penelitian bisa fokus pada pengembangan teknologi pascapanen dan pengolahan pangan lokal. Pertanyaan yang relevan adalah: Model agroindustri berbasis komunitas seperti apa yang paling efektif untuk mengintegrasikan teknologi modern dalam pengolahan umbi-umbian dan biji-bijian lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti tepung atau makanan ringan, sehingga dapat meningkatkan daya saing di pasar modern dan memperpanjang masa simpan produk? Terakhir, diperlukan studi yang mendalam tentang kerangka kebijakan yang mendukung. Kita perlu bertanya: Bagaimana pemerintah daerah dapat merancang kebijakan insentif yang komprehensif, seperti subsidi harga atau bantuan akses pasar digital, untuk para petani dan pelaku UMKM pangan lokal, sehingga mereka termotivasi untuk terus memproduksi dan mengembangkan diversifikasi pangan selain beras secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga mereka?.

Read online
File size545.64 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test