INDONESIAN EFL JOURNALINDONESIAN EFL JOURNAL

Indonesian Journal of EFL and LinguisticsIndonesian Journal of EFL and Linguistics

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan memetakan korespondensi fonologis, termasuk perbedaannya, serta menciptakan file isogloss. Metode percakapan digunakan untuk pengumpulan data. Teknik yang digunakan meliputi menunjuk objek, gambar, foto, dan aktivitas. Alat bantu digunakan untuk memfasilitasi pengumpulan data. Data diperoleh melalui percakapan mendalam dengan informan menggunakan instrumen yang disiapkan. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif, menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif serta metode komparatif sinkronik. Metode komparatif digunakan untuk membandingkan perbedaan korespondensi fonologis antara titik observasi. Rumus dialektometri digunakan untuk menghitung jumlah perbedaan fonologis. File isogloss dibuat sebagai batas korespondensi fonologis bahasa Melayu antara titik observasi. Hasil penelitian menggambarkan korespondensi fonologi bahasa Melayu di 13 titik observasi. Kedua, korespondensi fonologis antara titik observasi bervariasi dari 6,54% pada titik observasi 1-2 hingga 14,33% pada titik observasi 9-11. Selanjutnya, pemetaan variasi dan korespondensi fonologis bahasa Melayu di Provinsi Kalimantan Barat mengungkapkan adanya tiga dialek: Sambas, Mempawah, dan Sintang. Gambar 2 menampilkan dampak korespondensi dan variasi fonologis terhadap lokasi masing-masing dialek. Selain itu, garis isogloss yang membedakan korespondensi fonologis variasi bahasa Melayu direpresentasikan dalam bentuk file isofonik. Penelitian ini penting karena telah mengidentifikasi tiga dialek Melayu unik di Kalimantan Barat dan mengungkap korespondensi fonologis menarik di antara mereka.

Analisis data dengan perbandingan fonologis mengungkapkan 63 pola korespondensi dan variasi bunyi.Perhitungan jarak linguistik dalam persentase secara fonologis mengidentifikasi tiga dialek bahasa Melayu di Provinsi Kalimantan Barat.dialek Sambas, dialek Mempawah, dan dialek Sintang.Batas dialek dapat dilihat dalam pemetaan file isofonik secara fonologis pada Gambar 2.Batas dialek ini menunjukkan area regional masing-masing dialek menggunakan batas file isofonik.Hal ini merupakan indikator batas dialek antara wilayah penggunaan dialek Melayu di Provinsi Kalimantan Barat.Implikasi lain dari pemetaan fonologis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah bahwa korespondensi fonologis [-e] ≈ [-ə] ≈ [-a] ≈ [-o] dapat diinterpretasikan sebagai bukti bahwa bahasa Melayu di Kalimantan Barat terdiri dari empat dialek sosial.Dialek [-e] mencakup wilayah Sambas, Bengkayang, dan Singkawang.dialek [-a] mencakup Landak, Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, dan Sukadana.dan dialek [-o] ditemukan di daerah pesisir utara Sambas, khususnya di Teluk Keramat dan Paloh.Ketika korespondensi [ʀ-] ≈ [r-] diterapkan, hasilnya menunjukkan adanya dua dialek di Kalimantan Barat.dialek [ʀ-], yang digunakan di Mempawah dan Pontianak, dan dialek [r-], yang digunakan di Sambas, Bengkayang, Landak, Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, dan Sukadana.Temuan penting lainnya adalah bahwa korespondensi fonologis [-e] ≈ [-ə] ≈ [-a] ≈ [-o] menunjukkan hubungan dengan variasi bahasa Melayu lainnya.korespondensi [o] selaras dengan bahasa Melayu di Jambi, sedangkan korespondensi [e] sesuai dengan bahasa Melayu di Jakarta.Secara historis, ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa Melayu di Kalimantan Barat sangat berkaitan erat dengan bahasa Melayu di Jambi dan Jakarta, seperti yang dibuktikan oleh korespondensi fonologis bersama [-e] ≈ [-ə] ≈ [-a] ≈ [-o], yang menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki ikatan linguistik yang berkelanjutan yang berakar pada keturunan bahasa Melayu yang sama.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak perdagangan historis terhadap variasi linguistik di Kalimantan Barat, dengan membandingkan korespondensi fonologis antara bahasa Melayu Kalimantan Barat, Jambi, dan Jakarta. Selain itu, studi tentang peran komunikasi modern dalam preservasi dialek Melayu di kalangan generasi muda dapat menjadi arah penelitian yang menarik. Peneliti juga bisa mengeksplorasi perbedaan fonologis antara dialek Sambas dan Mempawah dengan menggunakan metode analisis sinkronik yang lebih mendalam untuk memahami dinamika pergeseran linguistik di daerah pesisir. Selain itu, penelitian tentang korelasi antara variasi fonologis dan faktor geografis, seperti perubahan batas administratif, dapat memberikan wawasan baru tentang evolusi dialek Melayu di wilayah tersebut.

  1. Comparative Phonology of Malay Languages in West Kalimantan Province: A Dialectological Study | Indonesian... indonesian-efl-journal.org/index.php/ijefll/article/view/970Comparative Phonology of Malay Languages in West Kalimantan Province A Dialectological Study Indonesian indonesian efl journal index php ijefll article view 970
Read online
File size522.58 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test