STKYAKOBUSSTKYAKOBUS
Jurnal Masalah Pastoral (JUMPA)Jurnal Masalah Pastoral (JUMPA)Penelitian ini mengeksplorasi relasi antara pembangunan agraria skala besar, tingkat deforestasi, dan independensi otoritas Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Marind di Kabupaten Merauke. Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 10 informan (perwakilan LMA, komunitas terdampak, pemerintah daerah, dan investor) dan dianalisis dengan metode Miles, Huberman & Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyek agraria berskala besar, yang dikembangkan dalam kerangka Program Food Estate dan investasi perkebunan, berkontribusi nyata terhadap konversi hutan dan melemahnya otoritas adat Marind. Proyek ini tidak hanya membuat kehilangan hutan secara fisik, melainkan juga hilangnya ruang hidup dan makna spiritual masyarakat Marind terhadap alam. Hutan yang selama berabad-abad menjadi bagian dari identitas dan sumber penghidupan kini berubah menjadi lahan ekonomi yang diatur oleh logika kapital dan birokrasi negara. Dengan demikian, deforestasi tidak dapat dipahami semata sebagai fenomena lingkungan, tetapi sebagai krisis kultural dan politik yang menandai lemahnya sistem perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat. LMA Marind sering mengalami marginalisasi dalam proses pelepasan tanah, sementara masyarakat kecil menerima kompensasi yang tidak proporsional. Studi ini merekomendasikan reformasi kebijakan agraria yang pro-masyarakat adat dan pro-lingkungan, penguatan kapasitas kelembagaan adat, dan integrasi kearifan lokal dalam tata kelola lahan.
Pembangunan agraria skala besar di Merauke menyebabkan deforestasi serta kerusakan ekologis dan sosial budaya pada masyarakat adat Marind, mengubah hutan dari identitas spiritual menjadi komoditas ekonomi dan mencerminkan krisis kultural serta politik.Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Marind menghadapi pelemahan independensi akibat tekanan politik, ekonomi, dan administratif, sehingga otoritas mereka tereduksi menjadi formalitas dan memperkuat pola otoritarianisme agraria yang menguasai tanah adat.Meskipun demikian, terdapat inisiatif resistensi dan transformasi kultural dari generasi muda Marind melalui pemetaan partisipatif dan pengembangan ekowisata berbasis kearifan lokal, menunjukkan adaptasi dan perjuangan aktif masyarakat adat.
Melihat kompleksitas dinamika antara pembangunan agraria skala besar, deforestasi, dan independensi otoritas Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Marind, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang krusial untuk memperdalam pemahaman dan menemukan solusi berkelanjutan. Pertama, penting untuk mengkaji secara komprehensif efektivitas jangka panjang dan tantangan replikasi dari inisiatif lokal yang telah muncul, seperti pemetaan partisipatif oleh generasi muda Marind, pengembangan ekowisata budaya, atau pengelolaan hutan adat. Penelitian ini dapat mengeksplorasi faktor-faktor keberhasilan dan hambatan dalam skala yang lebih luas, serta menganalisis bagaimana upaya-upaya tersebut dapat secara substansial mengembalikan kedaulatan masyarakat adat atas wilayah dan sumber daya mereka, bukan hanya sebagai simbol perlawanan. Kedua, perlu dilakukan analisis mendalam terhadap kerangka hukum dan kebijakan agraria spesifik yang secara struktural melemahkan posisi LMA Marind, serta bagaimana implementasinya di lapangan berkontribusi pada pola otoritarianisme agraria. Studi ini dapat mengidentifikasi celah-celah regulasi yang memungkinkan marginalisasi hak ulayat dan menyarankan reformasi yang lebih inklusif, bahkan dengan membandingkan kasus Merauke dengan konteks serupa di daerah lain untuk menemukan praktik terbaik. Ketiga, penelitian selanjutnya harus melakukan evaluasi sosio-ekonomi dan kultural yang lebih terperinci mengenai dampak skema kompensasi yang tidak proporsional dan perubahan mata pencarian tradisional pada kesejahteraan masyarakat adat Marind. Hal ini akan melibatkan studi kuantitatif atau campuran untuk mengukur perubahan pendapatan, ketahanan pangan, kesehatan, dan erosi nilai-nilai budaya, guna memberikan data konkret untuk advokasi dan perancangan program mitigasi yang lebih adil dan berkelanjutan bagi masyarakat yang terdampak. Melalui pendekatan-pendekatan ini, diharapkan dapat terungkap strategi yang lebih holistik dan berbasis bukti untuk melindungi hak-hak masyarakat adat dan ekosistem hutan.
- Agrarian movements and rural populism in Indonesia - White - 2023 - Journal of Agrarian Change - Wiley... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/joac.12506?utm_source=chatgpt.comAgrarian movements and rural populism in Indonesia White 2023 Journal of Agrarian Change Wiley onlinelibrary wiley doi 10 1111 joac 12506 utm source chatgpt
- Jurnal Masalah Pastoral (JUMPA). vol jumpa jurnal pastoral problems abbreviated journal published st... ojs.stkyakobus.ac.id/index.php/jumpa/issue/view/24Jurnal Masalah Pastoral JUMPA vol jumpa jurnal pastoral problems abbreviated journal published st ojs stkyakobus ac index php jumpa issue view 24
| File size | 322.21 KB |
| Pages | 10 |
| DMCA | Report |
Related /
UINSAUINSA Bahkan peraturan perundang-undangan di Indonesia juga menegaskan bahwa semua tenaga kerja, baik laki-laki maupun perempuan, berhak mendapatkan akses yangBahkan peraturan perundang-undangan di Indonesia juga menegaskan bahwa semua tenaga kerja, baik laki-laki maupun perempuan, berhak mendapatkan akses yang
UNSRATUNSRAT Pemerintah berperan penting dengan menetapkan regulasi, program edukasi, dukungan penelitian, dan kerja sama lintas sektor guna menciptakan sistem kesehatanPemerintah berperan penting dengan menetapkan regulasi, program edukasi, dukungan penelitian, dan kerja sama lintas sektor guna menciptakan sistem kesehatan
IFRELRESEARCHIFRELRESEARCH Dalam konteks Bali, hukum waris adat dikenal sebagai “Pewaris Utama dan didasarkan pada sistem kekerabatan Patrilineal, yang memberikan prioritas padaDalam konteks Bali, hukum waris adat dikenal sebagai “Pewaris Utama dan didasarkan pada sistem kekerabatan Patrilineal, yang memberikan prioritas pada
IPTSIPTS Tata tertib mangulosi mengatur urutan pemberian ulos, dimulai dari orang tua mempelai perempuan kepada orang tua mempelai laki‑laki, diikuti pemberianTata tertib mangulosi mengatur urutan pemberian ulos, dimulai dari orang tua mempelai perempuan kepada orang tua mempelai laki‑laki, diikuti pemberian
UNESUNES Kendala Hukumnya kurangnya koordinasi antara lembaga penegak hukum dan lembaga rehabilitasi. Aspek regulasi dan birokrasi yang kompleks juga menjadi tantanganKendala Hukumnya kurangnya koordinasi antara lembaga penegak hukum dan lembaga rehabilitasi. Aspek regulasi dan birokrasi yang kompleks juga menjadi tantangan
UMAUMA Persepsi masyarakat Kabupaten Klungkung terhadap kinerja pelayanan dan program Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Dokumen Kependudukan (P3CKDK)Persepsi masyarakat Kabupaten Klungkung terhadap kinerja pelayanan dan program Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Dokumen Kependudukan (P3CKDK)
AKRABJUARAAKRABJUARA Solusi utama yang diusulkan meliputi peningkatan literasi media serta penerapan prinsip maximize truth, minimize harm bagi penyebar berita hoax. PenelitianSolusi utama yang diusulkan meliputi peningkatan literasi media serta penerapan prinsip maximize truth, minimize harm bagi penyebar berita hoax. Penelitian
AKRABJUARAAKRABJUARA Tujuan penelitian ini adalah: (1). Untuk menemukan tingkat permasalahan dari Implementasi UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi PapuaTujuan penelitian ini adalah: (1). Untuk menemukan tingkat permasalahan dari Implementasi UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua
Useful /
STKYAKOBUSSTKYAKOBUS Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode etnografi dan grounded theory, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif,Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode etnografi dan grounded theory, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif,
UNESUNES Melalui program integrasi seperti Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat, narapidana dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat.Melalui program integrasi seperti Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat, narapidana dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat.
UNESUNES Namun implementasi penegakan kode etik masih menghadapi berbagai kendala, termasuk fenomena esprit de corps dan koordinasi antar unit. Faktor-faktor yangNamun implementasi penegakan kode etik masih menghadapi berbagai kendala, termasuk fenomena esprit de corps dan koordinasi antar unit. Faktor-faktor yang
UNESUNES Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa koordinasi fungsional belum berjalan optimal, sehingga Asisten Pidana Militer berperan memberikan dukungan, evaluasi,Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa koordinasi fungsional belum berjalan optimal, sehingga Asisten Pidana Militer berperan memberikan dukungan, evaluasi,