LAKASPIALAKASPIA

Jurnal Ilmiah Guru MadrasahJurnal Ilmiah Guru Madrasah

Artikel ini menganalisis teologi rasional Muhammad Abduh (1849–1905 M) sebagai landasan filosofis pembaruan pendidikan Islam. Sebagai tokoh utama gerakan pembaruan Islam modern, pengaruh Abduh tidak hanya terbatas di Mesir, tetapi meluas ke dunia Islam, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji posisi sentral akal (aql) dalam sistem teologi dan filsafat pemikiran Abduh serta implikasinya terhadap reformasi pemikiran, pendidikan, dan hukum Islam. Berangkat dari kritik terhadap kemunduran umat Islam yang ditandai oleh sikap jumud, taklid, dan ketergantungan pada tradisi tanpa penalaran kritis, Abduh menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang sejalan dengan nalar sehat dan rasionalitas manusia. Melalui metode kajian pustaka terhadap karya primer seperti Risālah al-Tauḥīd serta literatur sekunder yang relevan, penelitian ini menemukan bahwa Abduh memposisikan akal sebagai pilar epistemologis utama dalam memahami kewajiban moral dan ketuhanan, seperti pengenalan terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya, kehidupan akhirat, dan kewajiban etis manusia. Wahyu dipahami sebagai konfirmasi dan penyempurna fungsi akal, bukan sebagai entitas yang bertentangan dengannya. Selain itu, Abduh menolak paham fatalisme (Jabariyah) dan menegaskan konsep kebebasan berkehendak (Qadariyah) melalui prinsip ikhtiar dan tanggung jawab moral manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa teologi rasional Muhammad Abduh tidak hanya berfungsi sebagai pembaruan teologis, tetapi juga membentuk fondasi filosofis bagi paradigma pendidikan Islam modern yang rasional, kritis, dan transformatif.

Muhammad Abduh adalah seorang tokoh yang menempatkan akal pada kedudukan yang amat tinggi, sehingga corak pemikiran teologinya adalah bersifat rasional.Kedua, Muhammad Abduh memberi penghargaan yang tinggi pada kekuatan akal.Meski begitu, ia tetap memandang penting fungsi wahyu bagi akal.Ketiga, konsep teologi yang demikian itu berakibat pada keyakinannya bahwa manusia itu mempunyai kebebasan berfikir dan berbuat.Salah satu buktinya, dia menentang keras terhadap taklid.Muhammad Abduh memberi kekuatan yang lebih tinggi kepada akal daripada Mutazilah.Menurut Muhammad Abduh, akal dapat mengetahui hal-hal berikut ini.Tuhan dan sifat-sifat-Nya, adanya hidup di akhirat, kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dengan baik, sedang kesengsaraannya bergantung pada tidak mengenal Tuhan dan perbuatan jahat, wajibnya manusia mengenal Tuhan, wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat dan mengetahui Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi bagaimana prinsip teologi rasional Muhammad Abduh diterapkan dalam kurikulum pendidikan Islam modern di Indonesia, khususnya dalam mengintegrasikan nilai-nilai rasionalitas dengan pembelajaran agama. Selain itu, perlu dilakukan studi perbandingan antara pendekatan Abduh dengan pemikiran tokoh reformis Islam lainnya, seperti Jamaluddin Al-Afghani, untuk memahami variasi kontribusi mereka terhadap pembaruan pendidikan. Terakhir, penelitian juga bisa fokus pada tantangan praktis dalam menerapkan konsep kebebasan berkehendak (Qadariyah) dalam konteks pendidikan saat ini, terutama dalam menghadapi sikap jumud dan taklid yang masih relevan di masyarakat.

  1. MUHAMMAD ABDUH DAN PEMIKIRAN-PEMIKIRANNYA | Rasam | ANSIRU PAI : Pengembangan Profesi Guru Pendidikan... doi.org/10.30821/ansiru.v5i1.9802MUHAMMAD ABDUH DAN PEMIKIRAN PEMIKIRANNYA Rasam ANSIRU PAI Pengembangan Profesi Guru Pendidikan doi 10 30821 ansiru v5i1 9802
Read online
File size405.2 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test