LAKASPIALAKASPIA

Jurnal Ilmiah Guru MadrasahJurnal Ilmiah Guru Madrasah

Interactions between Acehnese communities and foreign nationals have intensified alongside the growth of tourism, education, and social mobility in Aceh. Differences in language, cultural backgrounds, and social norms require adjustments in intercultural encounters. This study analyzes Acehnese communication patterns in interactions with foreign nationals, examines the socio-cultural factors that shape these patterns, and describes observable forms of communicative adaptation in everyday encounters. Employing a descriptive qualitative approach, the study draws on participant observation in Banda Aceh and Sabang, complemented by document-based review as a comparative analytical frame. Data were analyzed thematically through data reduction, display, and conclusion drawing. The findings indicate that Acehnese communication tends to emphasize politeness, caution, and indirect strategies in both verbal and nonverbal forms. These tendencies are reflected in careful wording, controlled intonation, and the management of interpersonal distance and eye contact, particularly in cross-gender interactions. Religious values, customary norms, and prior exposure to intercultural encounters accompany the formation of these patterns. Communicative adaptation is observed through simplified language use, strengthened nonverbal cues, and the selection of “safe conversation topics. Overall, intercultural communication in Aceh emerges as an ongoing negotiation between openness to outsiders and the maintenance of local norms.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi masyarakat Aceh dalam interaksi dengan warga negara asing cenderung menekankan kesantunan, kehati-hatian, dan kecenderungan komunikasi tidak langsung, baik pada aspek verbal maupun nonverbal.Faktor sosial-budaya seperti nilai keagamaan, adat istiadat, dan pengalaman perjumpaan lintas budaya turut membentuk pola komunikasi tersebut.Komunikasi antarbudaya di Aceh merupakan proses negosiasi yang dinamis antara keterbukaan terhadap pihak luar dan pemeliharaan norma lokal.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mengeksplorasi lebih dalam bagaimana penggunaan media sosial dan teknologi komunikasi digital memengaruhi pola komunikasi masyarakat Aceh dengan warga negara asing, terutama dalam konteks pembentukan identitas dan representasi budaya. Selain itu, studi komparatif dapat dilakukan dengan membandingkan pola komunikasi masyarakat Aceh dengan masyarakat lain di Indonesia yang memiliki karakteristik budaya serupa, untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam menghadapi tantangan komunikasi lintas budaya. Terakhir, penelitian yang berfokus pada efektivitas program pelatihan komunikasi antarbudaya bagi masyarakat Aceh dan wisatawan asing dapat memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan pemahaman dan mengurangi potensi kesalahpahaman dalam interaksi lintas budaya, sehingga memperkuat citra Aceh sebagai destinasi wisata yang ramah dan inklusif. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teori dan praktik komunikasi antarbudaya di Indonesia, serta mendukung upaya pelestarian budaya lokal dan peningkatan kualitas interaksi sosial dalam era globalisasi.

  1. Applying Muslim-friendly tourism principles in destination management: Evidence from Aceh, Indonesia... doi.org/10.20885/IJHI.vol1.iss1.art5Applying Muslim friendly tourism principles in destination management Evidence from Aceh Indonesia doi 10 20885 IJHI vol1 iss1 art5
  2. Komunikasi Antarbudaya Pengungsi Etnis Rohingya Dengan Masyarakat Aceh Di Camp Bayeun Aceh Timur | Al-Hikmah... doi.org/10.32505/hikmah.v9i1.1729Komunikasi Antarbudaya Pengungsi Etnis Rohingya Dengan Masyarakat Aceh Di Camp Bayeun Aceh Timur Al Hikmah doi 10 32505 hikmah v9i1 1729
Read online
File size286.29 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test